Racci: Kuliner Kerang Khas Pulau Sembilan Sinjai
| Foto: Dj Onces Saputra / Wikimedia Commons, CC BY 3.0 |
Racci adalah olahan daging kerang laut khas Pulau Sembilan, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, yang oleh warga setempat juga disebut laha’. Rasanya pedas dan kecut, karena perasan asam ikut "mematangkan" daging kerang tanpa api. Racci termasuk keluarga lawa’ Bugis, tidak dijual di restoran kota, dan kerangnya musiman serta kian menipis.
Kuliner Sinjai yang dikenal orang luar biasanya berhenti di ikan bakar, cumi, dan udang. Padahal warga Pulau Sembilan menyimpan satu makanan yang nyaris tidak akan kamu temukan di tempat lain.
Namanya racci — olahan kerang laut bercita rasa pedas dan kecut, yang oleh warga setempat juga disebut laha’. Makanan sekeluarga dengannya ada di banyak daerah Bugis, tapi laha’ racci hanya ada di gugusan pulau kecil di Teluk Bone ini.
Artikel ini membahas apa itu racci, kerabatnya di keluarga masakan Bugis, tempat asalnya, dan satu hal yang jarang dibicarakan: kerangnya kian sulit didapat.
Apa Itu Racci
Racci adalah menu tradisional Pulau Sembilan yang berbahan utama daging kerang laut. Kerangnya diolah menjadi laha’ — sajian khas Bugis yang mengandalkan bahan segar — dengan rasa yang oleh warganya digambarkan sederhana saja: pedas, kecut, dan menggoyang lidah.
Rasa kecut itu bukan tempelan. Pada olahan bahan laut segar, perasan asam bekerja ganda: memberi rasa sekaligus "mematangkan" daging tanpa api — prinsip yang sama dengan berbagai sajian bahari segar di pesisir Nusantara.
Laha’, Lawa’, dan Kerabatnya di Dapur Bugis
Kalau kamu bertanya di daerah Bugis lain, nama yang lebih dikenal adalah lawa’ — ada lawa’ bale dari ikan, ada lawa’ mairo dari teri. Sebutan laha’ sendiri hanya dipakai di Sinjai.
Jadi racci bukan makanan yang benar-benar sendirian — ia anggota keluarga besar lawa’ yang tersebar di Sulawesi Selatan. Yang membuatnya khas adalah bahannya: kerang laut, bukan ikan. Dan versi kerang inilah yang hanya hidup di Pulau Sembilan.
Pulau Sembilan, Rumahnya
| Foto: Devspace / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0 |
Pulau Sembilan adalah gugusan pulau kecil milik Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, di perairan Teluk Bone. Sinjai sendiri sering disebut daerah "tiga dimensi": punya dataran tinggi, dataran rendah, sekaligus kawasan perairan — kombinasi yang membuat hasil alamnya lengkap, dari pegunungan sampai laut.
Dengan laut sedekat itu, tidak sulit menemukan sajian sari laut di Sinjai. Tapi racci tetap istimewa karena ia tidak ikut menyeberang ke daratan utama — makanan ini tinggal bersama orang-orang pulaunya.
Kerangnya: Bergizi, Musiman, dan Kian Menipis
| Foto: H. Zell / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0 |
Daging kerang laut termasuk bahan pangan bernilai gizi tinggi — sumber protein yang di banyak kampung pesisir justru lebih mudah dijangkau daripada daging ternak.
Tapi ada dua hal yang membuat racci tidak bisa dinikmati kapan saja:
- Kerang mengenal musim. Ia tidak selalu ada di laut, dan warga pulau memahami kapan waktunya mengumpulkan — seperti pada banyak hasil laut lain yang mengikuti kalender alam.
- Populasinya menipis. Laut membutuhkan kerang untuk ekosistemnya, sementara manusia menyukai dagingnya. Warga Pulau Sembilan sendiri mulai menyebut tangkapannya berkurang dari tahun ke tahun.
Di titik inilah cerita racci melampaui urusan kuliner. Makanan khas yang bahannya diambil langsung dari alam hanya akan bertahan selama alatnya — lautnya — tetap seimbang. Menjaga populasi kerang bukan urusan pemerintah saja; ia urusan siapa pun yang ingin cucunya masih bisa mencicipi laha’ racci.
Kalau Kamu Ingin Mencicipinya
Datang ke tempatnya. Racci tidak dijual di restoran kota — ia hidup di rumah-rumah warga Pulau Sembilan. Menyeberang dari Sinjai, dan bertanyalah pada warga; makanan seperti ini biasanya justru paling mudah ditemui lewat obrolan, bukan menu.
Datang di musim yang tepat. Karena kerangnya musiman, tanyakan dulu apakah sedang musim kerang sebelum berangkat khusus untuk makanannya.
Olahan bahari spesifik daerah seperti ini bukan cuma milik Sinjai. Sulawesi menyimpan banyak contoh lain yang pernah kami tulis — dari tobiko yang dipanen nelayan Galesong sampai cakalang fufu dari Manado.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Racci itu dimakan mentah?
Laha’ termasuk keluarga sajian bahan segar yang "dimatangkan" asam, bukan dimasak lama di atas api. Bagi yang tidak terbiasa, mulailah dengan porsi kecil — dan pastikan bahannya benar-benar segar.
Apa bedanya dengan lawa’ di daerah Bugis lain?
Prinsip olahannya sekeluarga; bedanya di bahan. Lawa’ bale memakai ikan dan lawa’ mairo memakai teri, sementara racci memakai daging kerang laut — dan hanya ada di Pulau Sembilan.
Kenapa tidak ada di kota Sinjai?
Bahannya menuntut kerang segar dari perairan pulau, dan makanannya memang tumbuh sebagai masakan rumahan — bukan dagangan. Itu yang membuatnya bertahan otentik, sekaligus membuatnya jarang ditemui.
Artikel ini pertama kali terbit Juni 2021, dan ditulis ulang September 2026 dengan tambahan konteks keluarga masakan lawa’ dan catatan keberlanjutannya.
Link will be apear in 3 seconds.