Bang Mandor: Mantan Preman Pasar Senen dengan 700 Ha Tambak

Hamparan tambak udang dan bandeng di pesisir, ilustrasi usaha tambak Bang Mandor di Muaragembong

Muhammad Iksan, yang lebih dikenal sebagai Bang Mandor, adalah mantan preman Pasar Senen asal Muaragembong, Bekasi, yang kini mengelola sekitar 700 hektare tambak udang vaname, bandeng, dan rumput laut. Dalam wawancara ia menyebut satu klaster tambak seluas 10 hektare bisa memanen sekitar 150 ton udang per siklus, dengan hasil Rp40 miliar sampai Rp50 miliar setahun per klaster. Angka itu pengakuannya sendiri di media, bukan laporan keuangan yang diaudit.

Kisah seperti ini gampang membuat kamu melongo: dari mengamen dengan gitar pinjaman di terminal, sampai punya hamparan tambak yang lebih luas dari kawasan Monas. Tapi bagian yang paling berguna dari cerita ini justru bukan angkanya, melainkan cara membaca angkanya.

Artikel ini merangkum perjalanan Bang Mandor, memeriksa angka-angka yang beredar di media, dan menempatkannya dalam gambaran besar tambak udang Indonesia.

Dari Pasar Senen ke Muaragembong

Iksan lahir di Muaragembong, Kabupaten Bekasi, daerah pesisir yang memang bertradisi tambak. Ia meninggalkan kampung bukan karena mengejar mimpi, melainkan karena terlalu sering berkelahi. "Ya saya kabur dari kampung juga itu karena berantem mulu, ribut terus," katanya seperti dikutip SINDOnews.

Di Pasar Senen ia mengamen sejak sekitar 1998 sampai 1999, berbekal satu gitar pinjaman. Perlindungan tidak datang gratis. "Hari pertama aman saya ngamen, hari kedua aman, hari ketiga babak belur," ujarnya soal pemukulan oleh preman terminal. Tahun-tahun berikutnya membalik posisinya: dari yang dipukuli menjadi yang disegani, menguasai sejumlah area.

Titik baliknya datang lewat perjalanan spiritual. Setelah berhenti dari jalanan, ia tidak langsung menjadi pengusaha tambak, melainkan mulai dari pedagang asongan. "Saya ngasong pak, dari situ saya belajar," katanya. Baru sesudah itu ia kembali ke keahlian yang sebenarnya sudah ia kenal sejak kecil: tambak.

Angka yang Ia Sebut, dan Cara Membacanya

Angka yang paling sering dikutip media berasal dari wawancaranya di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara. Rangkumannya, menurut Okezone:

Luas tambaksekitar 700 hektare
Ukuran satu klaster10 hektare
Produksi per klastersekitar 150 ton udang per siklus panen
Hasil per klasterRp40 miliar sampai Rp50 miliar per tahun
Komoditasudang vaname, bandeng, rumput laut

Ada satu angka yang perlu kamu perlakukan hati-hati. Beberapa media mengalikan 70 klaster dengan hasil per klaster, lalu menyimpulkan omzetnya Rp2,8 triliun sampai Rp3,5 triliun setahun. Perkalian itu hitungan redaksi, bukan angka yang ia sebut sendiri, dan mengandaikan seluruh 700 hektare terisi penuh serta panen lancar sepanjang tahun. Tambak tidak bekerja serapi itu: ada siklus kosong, gagal panen, penyakit udang, dan harga yang naik turun.

Bahkan ungkapannya yang paling sering dikutip pun sebaiknya dibaca sebagai kalimat orang lapangan, bukan data: "Istilahnya sampai kita orang-orang budidaya itu mengistilahkan tidak ada yang mengalahkan bisnis budidaya udang kecuali bandar narkoba penghasilannya."

Kenapa Udang Vaname

Pilihan komoditasnya masuk akal. Udang vaname menyumbang sekitar 85 persen volume ekspor udang Indonesia, sebagaimana disebut rilis Pemkab Bekasi saat Menteri Kelautan dan Perikanan waktu itu, Edhy Prabowo, melakukan panen udang vaname di Desa Pantai Bahagia, Muaragembong, pada 17 November 2020. Panen itu digelar bersama kelompok budidaya ikan Mina Mekar Sejahtera, jadi bukan di tambak milik Iksan.

Skala nasionalnya sendiri belum sebesar yang sering dibayangkan. Pada Desember 2019, Edhy menyebut ekspor udang Indonesia masih berada di urutan kelima dunia dengan porsi di bawah 5 persen dari pasar global, seperti dilaporkan Tempo. Artinya ruang tumbuhnya besar, dan itulah yang dikejar para pemain tambak seperti Bang Mandor.

Yang Bisa Diambil dari Kisahnya

Tambak itu padat modal dan padat risiko. Angka miliaran yang beredar adalah hasil kotor satu klaster 10 hektare, bukan keuntungan bersih pemilik kecil. Biaya benur, pakan, listrik aerator, dan penanganan penyakit memakan porsi besar.

Skala dibangun bertahap. Iksan tidak memulai dari 700 hektare, melainkan dari dagang asongan lalu kembali ke keahlian kampungnya sendiri.

Satu tambak jarang berisi satu komoditas. Udang, bandeng, dan rumput laut hidup berdampingan dalam satu ekosistem tambak payau. Kalau kamu penasaran dengan sisi konsumsinya, baca ikan bandeng: duri, presto, dan cara memilihnya, dan lihat kumpulan tulisan kami di halaman Mengenal Ikan Konsumsi Indonesia.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Siapa Bang Mandor?
Muhammad Iksan, pengusaha tambak asal Muaragembong, Kabupaten Bekasi, yang sebelumnya dikenal sebagai preman Pasar Senen. Nama Bang Mandor adalah sapaan akrabnya.

Berapa luas tambaknya?
Sekitar 700 hektare, dibagi dalam klaster-klaster berukuran 10 hektare. Untuk gambaran, luas itu beberapa kali lipat kawasan Monas.

Benarkah omzetnya triliunan rupiah?
Yang ia sebut adalah Rp40 miliar sampai Rp50 miliar per klaster per tahun. Angka triliunan muncul dari perkalian media terhadap jumlah klaster, dan mengandaikan seluruh lahan produktif sepanjang tahun. Perlakukan sebagai perkiraan kasar, bukan omzet terverifikasi.

Apa saja yang dibudidayakan di tambaknya?
Udang vaname sebagai komoditas utama, ditambah bandeng dan rumput laut.

Link will be apear in 3 seconds.

Mataikan Segala Informasi Perikanan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel