Ikan Sapu-Sapu: Kenapa Jakarta Kini Memburunya

Seekor ikan sapu-sapu berwarna gelap menempel di dasar kolam dangkal di antara ikan-ikan lain
Foto: Nafisathallah / Wikimedia Commons, CC BY 4.0

Mataikan.com – Jumat, 11 September 2026, petugas Sudin KPKP Jakarta Barat mengangkat 311 ekor ikan sapu-sapu — sekitar 37 kilogram — dari Kali Pesanggrahan di Kebon Jeruk. Bukan operasi pertama, dan hampir pasti bukan yang terakhir: sepanjang 2026 Jakarta memang sedang berperang melawan satu jenis ikan.

Yang membuat cerita ini menarik: ikan yang diburu ramai-ramai itu adalah ikan yang dulu kita beli di toko akuarium. Sapu-sapu masuk ke sungai-sungai Jakarta bukan berenang sendiri dari Amazon — ia dibuang oleh pemeliharanya, sedikit demi sedikit, selama puluhan tahun.

Artikel ini membahas kenapa sapu-sapu bisa menguasai sungai Jakarta, kenapa pemerintah sampai membentuk tim khusus untuk memburunya, dan pertanyaan yang paling sering muncul: memangnya boleh dimakan?

Ikan Akuarium yang Menjajah Sungai

Sapu-sapu yang mendominasi sungai Jakarta umumnya dari kelompok Pterygoplichthys, keluarga lele berzirah (Loricariidae) asal Amerika Selatan. Di toko ikan ia dijual murah sebagai "ikan pembersih": mulutnya yang seperti alat pengisap bekerja memakan lumut di kaca dan dasar akuarium. Banyak akuarium pemula memeliharanya berdampingan dengan ikan-ikan air tawar populer lainnya.

Masalahnya dimulai setelah akuariumnya bubar. Sapu-sapu bisa tumbuh 30-50 sentimeter — jauh melampaui bayangan pembelinya — dan pemilik yang kewalahan memilih "membebaskannya" ke kali terdekat. Di sanalah semua keunggulannya berubah jadi bencana.

Kenapa Ia Nyaris Tak Terkalahkan di Sungai Jakarta

Ikan sapu-sapu hitam dengan sisik seperti zirah berbaring di pasir akuarium dekat kayu apung
Foto: harum.koh from Kobe city, Japan / Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0
  • Tahan air paling kotor sekalipun. Sapu-sapu sanggup mengambil oksigen dari udara, jadi sungai tercemar yang mematikan ikan lain justru jadi wilayah kekuasaannya tanpa pesaing.
  • Berzirah dan nyaris tanpa pemangsa. Sisiknya keras seperti pelat baja; di sungai kita tidak ada pemangsa alami yang sanggup menembusnya.
  • Beranak luar biasa banyak. Nelayan yang ikut operasi penangkapan menyebutnya seperti nyamuk — sekali menetas bisa ribuan ekor.
  • Merusak turap sungai. Sapu-sapu menggali lubang sarang di tebing dan dinding turap. Lubang-lubang itu membuat turap keropos dan cepat rusak — kerugiannya bukan cuma ekologis, tapi juga infrastruktur.

Kombinasi itu membuat sapu-sapu perlahan menggeser ikan-ikan lain. Di beberapa ruas sungai utama Jakarta, ia bukan lagi pendatang — ia mayoritas.

Perang Jakarta Melawan Sapu-Sapu Sepanjang 2026

Puncaknya April 2026: Gubernur Jakarta menginstruksikan pengurangan populasi sapu-sapu di seluruh wilayah, lengkap dengan pasukan khusus pembersih kali. Sejak itu operasinya berjalan nyaris tiap bulan:

Waktu Yang terjadi
AprilInstruksi gubernur; Jakarta Selatan jadi episentrum dengan tangkapan mendekati 7 ton; Setu Babakan sendiri ditargetkan 5 ton
Mei383 ekor terjaring dari Kali Pesanggrahan di Meruya Utara
Juli93 kilogram lagi dari kali yang sama; mulai dikaji pemanfaatannya
AgustusTangkapan Jakarta Barat menembus 2.000 ekor sejak awal tahun
11 September311 ekor (±37 kg) diangkat dari Kali Pesanggrahan, Kebon Jeruk

Hasil tangkapan September dikubur sesuai prosedur. Sebagian pemerintah kota mengkaji jalan yang lebih berguna: mengolahnya jadi pakan ternak dan pupuk — dilema khas hama yang sebenarnya punya nilai ekonomi.

Nelayan ikan sapu-sapu duduk di rakit membawa karung tertutup terpal menyusuri Ciliwung yang keruh
Foto: Beeyan / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Jauh sebelum operasi resmi, sebagian warga memang sudah lama menjadikan sapu-sapu tangkapan Ciliwung sebagai penghasilan — dan di situlah muncul pertanyaan yang paling sensitif.

Bolehkah Ikan Sapu-Sapu Dimakan?

Dagingnya sendiri bukan racun. Yang jadi soal adalah dari mana ikannya berasal. Sapu-sapu justru paling betah di sungai paling tercemar, dan tubuhnya menyerap apa yang ada di sana — peneliti sudah mengingatkan ancaman logam berat pada olahan berbahan sapu-sapu sungai, dan Dinas KPKP DKI secara terbuka memperingatkan bahaya mengonsumsi sapu-sapu dari Ciliwung.

Isu ini sampai ke urusan jajanan: karena dagingnya murah, sapu-sapu sungai pernah ramai disebut jadi bahan baku siomay. Pemkot Jakarta Selatan sampai membentuk tim pengawas bersama BBPOM untuk memeriksanya. Aturan praktisnya sederhana: kalau asal ikannya sungai tercemar, jangan. Yang dibudidayakan di air bersih adalah cerita berbeda.

Pelajaran Buat Penghobi Akuarium

Invasi sapu-sapu adalah versi lambat dari cerita yang sama berulang-ulang: ikan peliharaan yang dilepas ke perairan umum. Sapu-sapu masih legal dipelihara — tapi ada puluhan jenis lain yang sudah resmi dilarang dipelihara dan diedarkan di Indonesia justru karena pola ini.

Kalau sapu-sapumu sudah terlalu besar: berikan ke sesama penghobi, kembalikan ke penjual, atau serahkan ke dinas perikanan. Melepasnya ke kali terasa seperti kebaikan, padahal itu cara invasi dimulai. Jakarta hari ini sedang membayar mahal untuk "kebaikan-kebaikan" kecil semacam itu yang menumpuk sejak puluhan tahun lalu.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Kenapa disebut ikan sapu-sapu?
Karena kerjanya persis sapu: mulut pengisapnya membersihkan lumut dan sisa makanan dari kaca serta dasar akuarium. Nama kerennya di dunia akuarium: pleco.

Apakah sapu-sapu berbahaya bagi manusia?
Tidak — ia tidak menggigit dan tidak berbisa. Bahayanya ada di dua tempat lain: bagi ekosistem sungai yang ia kuasai, dan bagi orang yang memakan sapu-sapu dari perairan tercemar.

Boleh tidak memelihara sapu-sapu di akuarium?
Boleh, dan ia memang pembersih lumut yang efektif. Satu-satunya aturan yang tidak boleh dilanggar: jangan pernah melepasnya ke sungai, selokan, atau danau — sekecil apa pun ikannya saat itu.

Link will be apear in 3 seconds.

Allell Menulis panduan praktis di Sumber Tips (TV satelit, receiver parabola, set top box), Kepo Indonesia, dan Mataikan. Artikel ditulis dari pengalaman memakai perangkatnya langsung, dengan ketentuan yang dicek ke sumber resmi. Tentang saya: https://www.sumbertips.com/p/about.html

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel