Telur Ikan Terbang: Tobiko dari Makassar dan Cara Menangkapnya

Ikan terbang dengan sirip dada dibentangkan penuh seperti sayap kipas, dipegang di tempat pendaratan ikan
Foto: Dr. Raju Kasambe / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Mataikan.com – Butiran oranye kecil di atas sushi itu namanya tobiko. Banyak orang mengira itu produk Jepang.

Padahal sebagian besar tobiko yang beredar berasal dari Galesong, kecamatan pesisir di Kabupaten Takalar, sekitar 22 kilometer selatan Makassar. Dan cara mendapatkannya jauh lebih menarik daripada produknya sendiri: nelayan tidak menangkap ikannya sama sekali.

Seperti ikan roa yang lebih dikenal lewat sambalnya, ikan terbang lebih dikenal lewat telurnya ketimbang lewat ikannya.

Ikan Terbang Itu Ikan Apa?

Ikan terbang adalah kelompok ikan laut dari suku Exocoetidae, yang mencakup delapan marga. Bentuk tubuhnya bulat memanjang seperti cerutu, dengan sirip dada yang sangat panjang — biasanya mencapai belakang sirip punggung.

Jenis yang paling banyak tertangkap di Selat Makassar dan Laut Flores adalah Hirundichthys oxycephalus.

Nama lokalnya berbeda menurut suku:

  • Tuing-tuing — Bugis
  • Torani — Makassar (dalam bahasa Makassar disebut juku' torani)
  • Tourani — Mandar

Ikan Terbang Tidak Terbang — Ia Meluncur

Namanya sedikit menyesatkan. Ikan terbang tidak mengepakkan sirip seperti burung mengepakkan sayap.

Yang ia lakukan adalah berenang cepat mendekati permukaan, melompat keluar dari air, lalu membentangkan sirip dadanya dan meluncur memanfaatkan angin dan permukaan laut. Sekali meluncur, jaraknya bisa mencapai sekitar 200 meter.

Perilaku ini adalah cara menghindari pemangsa. Ketika ikan besar mengejar dari bawah, keluar dari air adalah jalan keluar yang paling masuk akal.

Nelayan Tidak Menangkap Ikannya — Mereka Menunggu Telurnya

Ini bagian yang membuat perikanan ini berbeda dari hampir semua perikanan lain di Indonesia.

Induk ikan terbang punya satu kebiasaan: ia menempelkan telurnya pada benda-benda yang mengapung di laut. Telurnya lengket, dan ia butuh sesuatu untuk menempel.

Nelayan Takalar memanfaatkan kebiasaan itu. Awalnya mereka memakai alat bernama pakaja. Ketika permintaan telur melampaui permintaan ikan dewasanya, alat itu dimodifikasi menjadi bale-bale.

Bentuknya sederhana:

  • Rangka bambu berukuran sekitar 1 x 2 meter, berbentuk empat persegi panjang
  • Diikatkan rumbai daun kelapa, sekitar 12–14 helai
  • Dihanyutkan di laut lepas

Ikan terbang datang sendiri, memijah, dan menempelkan telurnya pada rumbai daun kelapa itu. Sehari kemudian nelayan tinggal memanen.

Jadi yang mereka pasang bukan jaring, melainkan tempat bertelur. Ikannya sendiri dibiarkan pergi.

Pattorani, Nelayan Ikan Terbang Galesong

Nelayan yang menekuni ikan terbang punya sebutan sendiri: pattorani, diambil dari nama ikannya. Kebanyakan mereka berasal dari Galesong, Takalar, Sulawesi Selatan.

Ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan tatanan sosial tersendiri. Ada punggawa biseang — pemimpin kapal yang bertanggung jawab atas pelayaran dan proses penangkapan, dipilih dari awak yang paling berpengalaman. Ada sistem bagi hasil, dan ada hubungan patron-klien antar nelayan.

Sebelum melaut, keluarga nelayan menjalankan ritual yang dipimpin tetua kampung, memohon keselamatan selama pelayaran. Pelayarannya memang bukan sehari dua hari.

Dulu yang Dicari Ikannya, Bukan Telurnya

Foto arsip orang menjemur dan membalik ikan terbang di atas tikar bambu di pantai Galesong, Sulawesi Selatan
Foto arsip: KITLV / Universiteit Leiden, CC BY 4.0
Perikanan ini tidak selalu berbentuk seperti sekarang.

Nelayan Takalar mula-mula memanfaatkan ikan terbang dewasa sekaligus telurnya. Ikan yang tertangkap dibelah, digarami, lalu dijemur di atas tikar bambu di sepanjang pantai — pemandangan yang selama puluhan tahun jadi ciri khas pesisir Galesong.

Pergeserannya terjadi ketika permintaan telur melampaui permintaan ikan dewasanya. Dari situlah pakaja dimodifikasi menjadi bale-bale, dan fokusnya berpindah sepenuhnya ke telur.

Perubahan itu punya sisi baik yang jarang disadari: alat tangkap berubah dari yang menangkap ikan menjadi yang cuma menampung telur. Tetapi ia juga menggeser tekanan dari ikan dewasa ke calon generasi berikutnya.

Olahan ikan terbang keringnya sendiri masih hidup di dapur Sulawesi, sebagaimana racci di Pulau Sembilan, Sinjai — bahan lautnya sederhana, cara mengolahnya yang membuatnya bertahan.

Musimnya Hanya Beberapa Bulan

Ikan terbang bertelur secara musiman, mengikuti arah angin. Catatan lapangan menyebut pengumpulan telur berlangsung sekitar Juni sampai awal Oktober, ketika angin bertiup dari arah timur Indonesia. Sebagian sumber lain mencatat rentang yang sedikit lebih awal, sekitar Mei sampai September.

Di luar musim itu, tidak ada telur untuk dipanen. Seluruh pendapatan setahun bertumpu pada beberapa bulan saja.

Dari Atap Perahu ke Restoran Jepang

Telur ikan terbang atau tobiko berwarna oranye disajikan di atas ikan albakor panggang
Foto: J.smith / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0
Setelah dipanen, telur dilepaskan dari rumbai daun kelapa lalu dijemur di atap perahu selama satu sampai dua hari. Pengolah atau pengepul kemudian membersihkannya berulang kali untuk menurunkan kandungan seratnya sampai di bawah 20 persen.

Dari situ telur dikirim ke Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam, dan belakangan juga menembus pasar Eropa.

Soal nilainya, angka dari berbagai laporan bervariasi karena berbeda tahun dan berbeda tingkat rantai:

  • Di tingkat nelayan, harga telur ikan terbang tercatat lebih dari Rp500 ribu per kilogram
  • Harga ekspor tercatat sekitar US$40 per kilogram
  • Satu perusahaan pengekspor pernah menyerap sekitar 700 ton dalam satu musim, menyangga sekitar 700 perahu nelayan

Ini bagian dari gelombang yang sama ketika produk perikanan Indonesia dilepas ekspor ke puluhan negara — hanya saja komoditas yang satu ini nyaris tidak dikenal di dalam negeri sendiri.

Masalah yang Datang Bersama Harga Tinggi

Harga telur yang tinggi membuat ikan terbang jadi buruan utama. Penangkapannya bersifat terbuka — siapa saja boleh ikut, tanpa pembatasan yang jelas — dan kajian menyebut kondisi ini sudah mengarah pada penangkapan berlebih.

Kementerian Kelautan dan Perikanan mengatur pengelolaan ikan terbang lewat Kepmen KP Nomor 69/KEPMEN-KP/2016, yang kemudian ditinjau ulang. Tetapi tata kelola penangkapan telurnya sendiri belum sepenuhnya tertata, sementara aktivitasnya makin masif.

Polanya berulang di perikanan bernilai tinggi lainnya: seperti pada benih lobster, ketika satu komoditas tiba-tiba bernilai besar di pasar luar negeri, tekanan penangkapan naik jauh lebih cepat daripada aturannya.

Ada satu hal yang membedakan, dan ini penting: metode bale-bale sebenarnya tidak membunuh induknya. Ikan dewasanya tetap hidup. Yang diambil adalah telurnya — dan justru di situ letak persoalannya, karena yang dipanen adalah generasi berikutnya.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Tobiko itu telur ikan apa?
Telur ikan terbang, suku Exocoetidae. Di pasar Indonesia jenis yang paling banyak diambil adalah Hirundichthys oxycephalus.

Apa bedanya tobiko dan masago?
Tobiko adalah telur ikan terbang, sedangkan masago adalah telur ikan capelin. Bentuknya mirip, tetapi tobiko umumnya berbutir sedikit lebih besar dan lebih renyah.

Bagaimana cara nelayan mengambil telur ikan terbang?
Dengan bale-bale — rakit bambu berumbai daun kelapa yang dihanyutkan di laut. Ikan terbang menempelkan telurnya di rumbai itu, lalu dipanen sehari kemudian.

Berapa harga telur ikan terbang?
Bervariasi menurut musim dan mutu. Laporan mencatat lebih dari Rp500 ribu per kilogram di tingkat nelayan, dengan harga ekspor sekitar US$40 per kilogram.

Apakah ikan terbang benar-benar bisa terbang?
Tidak. Ia meluncur, bukan mengepakkan sirip. Jarak luncurnya bisa mencapai sekitar 200 meter.

Di mana sentra telur ikan terbang di Indonesia?
Galesong di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, adalah yang paling dikenal. Penangkapan juga berlangsung di perairan Maluku dan sekitar Laut Flores.

Penutup

Ada yang ganjil dari cerita ini. Sebuah komoditas dari pesisir Sulawesi Selatan berakhir di piring sushi di Tokyo dan Seoul, tetapi hampir tidak dikenal di negeri asalnya sendiri.

Cara memanennya pun layak dicatat: nelayan tidak memburu ikannya, melainkan menyiapkan tempat bertelur dari bambu dan daun kelapa, lalu menunggu. Sebuah teknik yang bertumpu sepenuhnya pada pemahaman tentang kebiasaan seekor ikan.

Yang belum selesai adalah bagian sesudahnya — memastikan panen tahun ini tidak menghabiskan panen tahun depan.

Link will be apear in 3 seconds.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel