Ikan Sidat: Siklus Hidup, Nama Lokal, dan Aturan Ekspornya
![]() |
| oto: Ffish.asia / Wikimedia Commons, CC BY 4.0 |
Mataikan.com – Ikan sidat jarang masuk daftar ikan air tawar populer di Indonesia, padahal ia salah satu ikan paling bernilai yang kita punya — dan punya cerita hidup yang paling aneh di antara semuanya.
Sidat lahir di laut dalam, menghabiskan bertahun-tahun di sungai, lalu kembali ke laut untuk bertelur sekali dan mati. Sampai hari ini belum ada yang berhasil membuatnya bertelur di kolam. Artinya setiap sidat yang kamu makan bermula dari benih yang diambil dari alam.
Artikel ini membahas siklus hidupnya, nama-nama lokalnya, aturan ekspornya, dan kenapa nasibnya sedang tidak baik-baik saja.
Ikan Sidat Bukan Belut
Ini kekeliruan paling umum. Sidat dan belut sawah memang sama-sama panjang dan licin, tetapi keduanya bukan kerabat dekat.
Bedanya bisa dilihat langsung:
- Sidat (Anguilla spp.) punya sirip dada di belakang kepala, dan sirip punggung yang menyatu memanjang sampai ke ekor.
- Belut sawah (Monopterus albus) nyaris tidak bersirip sama sekali. Tubuhnya polos seperti selang.
Sidat juga jauh lebih besar. Beberapa jenis bisa tumbuh lebih dari satu meter.
Di Indonesia tercatat setidaknya enam jenis sidat: Anguilla marmorata, A. celebesensis, A. ancestralis, A. borneensis, A. bicolor bicolor, dan A. bicolor pacifica.
Nama lokalnya berbeda-beda menurut daerah:
- Sogili dan masapi — Poso, Sulawesi Tengah (masapi dari bahasa Pamona)
- Pelus — Jawa
- Moa dan lubang — sebutan di sebagian daerah lain
Siklus Hidup yang Terbalik dari Ikan Kebanyakan
Sidat bersifat katadromus: hidup dan tumbuh di air tawar, tetapi memijah di laut. Ini kebalikan dari salmon, yang tumbuh di laut lalu naik ke sungai untuk bertelur.
Sidat dewasa bermigrasi ke laut dan memijah di kedalaman lebih dari 300 meter, pada suhu sekitar 20°C dan salinitas tinggi. Seekor induk betina dapat menghasilkan sekitar 3 juta telur per kilogram bobot tubuhnya.
Telurnya menetas kira-kira 24 jam kemudian, menjadi larva sepanjang 5 milimeter.
Empat fase hidup dengan empat nama berbeda
- Leptocephalus — larva berbentuk seperti daun, gepeng dan tembus pandang. Ia hanyut terbawa arus laut selama berbulan-bulan.
- Glass eel — bentuknya sudah memanjang seperti sidat kecil, tetapi tubuhnya masih bening. Pada tahap inilah ia masuk ke muara sungai.
- Yellow eel — tumbuh di sungai, danau, waduk, dan rawa selama sekitar 2–3 tahun, kadang jauh lebih lama.
- Silver eel — warnanya berubah keperakan, matanya membesar, lalu ia bermigrasi kembali ke laut untuk memijah.
Bentuk larva daun itu begitu berbeda dari sidat dewasa sehingga dulu para ilmuwan sempat mengiranya spesies yang sama sekali lain, dan memberinya nama ilmiah tersendiri.
Kenapa Sidat Belum Bisa Dibudidayakan Sepenuhnya
Ada kalimat yang selalu muncul di setiap penelitian sidat: sampai hari ini sidat belum berhasil dipijahkan di kolam budidaya. Pemijahannya hanya terjadi di alam, di laut dalam, dalam kondisi yang belum bisa ditiru.
Konsekuensinya besar. Semua yang disebut “budidaya sidat” di Indonesia sebenarnya adalah pembesaran, bukan pembenihan. Benihnya — glass eel dan elver — seluruhnya masih ditangkap dari alam, di muara-muara sungai.
Kalau pola ini terdengar familiar, memang benar. Persoalannya sama persis dengan benih lobster yang jadi polemik besar beberapa tahun lalu: hewan bernilai tinggi, belum bisa dipijahkan di penangkaran, sehingga seluruh rantai usahanya bertumpu pada benih tangkapan alam. Dan setiap benih yang diambil adalah satu individu yang tidak jadi berkembang biak.
Sogili dan Wayamasapi di Danau Poso
Di Danau Poso, sidat bukan sekadar komoditas. Ia bagian dari kebudayaan.
Masyarakat adat Pamona menangkap sogili dengan wayamasapi — deretan pagar dan perangkap bambu yang dipasang di sepanjang tepi danau dan sungai, mengikuti jalur migrasi sidat. Alatnya sederhana, tetapi bertumpu pada pengetahuan tentang kapan dan lewat mana sidat bergerak.
Tradisi itu sekarang nyaris habis. Catatan lapangan menunjukkan pada 2019 masih ada sekitar 30 wayamasapi di sepanjang Sungai Poso; belakangan tinggal empat. Sisanya dibongkar setelah ada kompensasi, seiring pengerukan jalur keluar bendungan sepanjang 12,8 kilometer untuk proyek PLTA.
Persoalannya bukan cuma alat tangkapnya. Bendungan itu memutus jalur migrasi sidat dari dan ke laut — padahal seluruh siklus hidupnya bergantung pada perjalanan itu. Tanpa jalur, tidak ada sidat baru yang masuk, dan yang dewasa tidak bisa keluar untuk memijah.
Pola ini berulang di tempat lain. Ancaman serupa juga menekan ikan pelangi Boeseman di Danau Ayamaru, Papua Barat. Bedanya, ikan pelangi terancam karena perdagangan; sidat terancam karena jalannya diputus.
Aturan Ekspor Benih Sidat
Pemerintah sudah lama menyadari masalahnya. Lewat Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.19/MEN/2012, benih sidat berbobot 150 gram atau kurang per ekor dilarang dikeluarkan dari wilayah Indonesia.
Larangan ini mencakup tahap glass eel dan elver — justru tahap yang paling diincar, karena negara pembeli ingin membesarkannya sendiri. Pengawasannya dijalankan oleh BKIPM, badan karantina ikan di bawah KKP.
Logikanya sama seperti pada lobster: menjual benih berarti menyerahkan nilai tambah ke negara lain, sekaligus menguras stok alam. Aturan perikanan bisa berubah dari waktu ke waktu, jadi periksa ketentuan terbaru dari KKP sebelum menjalankan usaha apa pun.
Kenapa Jepang Memburu Sidat Indonesia
Di Jepang, sidat dikenal sebagai unagi dan jadi hidangan yang mahal serta bergengsi. Permintaannya besar dan konsisten sepanjang tahun.
Masalahnya, sidat jepang sendiri (Anguilla japonica) sudah masuk daftar merah IUCN dengan status terancam punah. Ketika pasokan dalam negeri menipis sementara permintaan tetap, pencarian bergeser ke negara lain — dan Indonesia jadi salah satu sumber utamanya.
Sidat dari Cilacap, misalnya, sudah menembus restoran kelas dunia. Ini bagian dari gelombang yang sama ketika produk perikanan Indonesia dilepas ekspor ke puluhan negara.
Yang perlu diingat: tekanan itu berpindah, bukan hilang. Kelangkaan di satu negara berubah menjadi tekanan penangkapan di negara lain.
Di Mana Sidat Ditemukan di Indonesia
- Jawa Barat — Teluk Palabuhanratu dan sungai-sungai Sukabumi, salah satu sumber benih terbesar
- Jawa Tengah — Cilacap, pusat pembesaran dan ekspor
- Sulawesi Tengah — Danau Poso dan Sungai Poso
- Sulawesi Selatan, Kalimantan, Sumatera, sampai perairan Indonesia timur
Sebaran seluas itu bukan kebetulan. Indonesia berada di jalur arus yang membawa larva sidat dari lokasi pemijahannya di laut dalam — sesuatu yang tidak dimiliki banyak negara.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa bedanya sidat dan belut?
Sidat punya sirip dada dan sirip punggung yang memanjang; belut sawah hampir tidak bersirip. Keduanya berasal dari suku yang berbeda, dan sidat tumbuh jauh lebih besar.
Kenapa ikan sidat mahal?
Karena benihnya tidak bisa diproduksi di penangkaran, seluruhnya harus ditangkap dari alam, sementara permintaan ekspornya besar. Pasokan terbatas bertemu permintaan tinggi.
Apakah sidat dilindungi di Indonesia?
Sidat tidak dilarang ditangkap, tetapi benihnya diatur: benih 150 gram ke bawah dilarang diekspor keluar Indonesia. Aturan bisa berubah, jadi periksa ketentuan terbaru KKP.
Sidat itu ikan air tawar atau air laut?
Keduanya, pada fase yang berbeda. Ia lahir di laut, tumbuh di air tawar, lalu kembali ke laut untuk memijah.
Apa itu sogili?
Nama lokal sidat di Poso, Sulawesi Tengah. Disebut juga masapi dalam bahasa Pamona.
Berapa lama sidat hidup di sungai?
Umumnya sekitar 2–3 tahun pada fase yellow eel, tetapi bisa jauh lebih lama tergantung jenis dan kondisi perairannya.
Penutup
Sidat adalah ikan yang perjalanannya melintasi ribuan kilometer dan beberapa wujud tubuh, dari larva daun yang tembus pandang di laut dalam sampai ikan sepanjang lengan di sungai pegunungan.
Seluruh perjalanan itu hanya bisa berlangsung kalau jalannya tidak terputus. Selama benihnya masih harus diambil dari alam, dan selama muara serta sungainya masih terhubung ke laut, sidat akan terus ada.
Yang terjadi di Danau Poso menunjukkan apa yang hilang ketika salah satu syarat itu dilanggar — bukan hanya ikannya, tetapi juga cara hidup orang yang selama ini bergantung padanya.
Link will be apear in 3 seconds.


