Ikan Roa: Ikan Apa, dari Mana Asalnya, dan Cara Memilihnya

Ikan roa atau julung-julung berenang tepat di bawah permukaan laut, rahang bawahnya memanjang seperti jarum dengan ujung berwarna merah

Mataikan.com – Kalau kamu mencari “ikan roa” di internet, yang muncul hampir semuanya resep sambal. Padahal pertanyaan yang paling sering diketik orang justru lebih mendasar: roa itu ikan apa, sih?

Jawaban singkatnya: ikan roa adalah ikan julung-julung, ikan laut kecil bermarga Hemiramphus. Ia bukan kerabat dekat tuna, bukan pula ikan air tawar. Dan hampir tidak pernah dijual segar — hampir selalu sudah diasap, sama seperti ikan cakalang yang diolah jadi cakalang fufu di Manado.

Artikel ini membahas roa dari sisi ikannya: bentuk tubuhnya, kenapa rahangnya panjang sebelah, dari perairan mana ia ditangkap, bagaimana nelayan menangkapnya, dan cara memilih roa asap yang bagus di pasar.

Ikan Roa Itu Ikan Apa?

Ikan roa adalah nama lokal untuk ikan julung-julung, kelompok ikan laut dari suku Hemiramphidae. Di Indonesia yang paling sering tertangkap adalah Hemiramphus far, disusul Hemiramphus lutkei dan Hemiramphus archipelagicus.

Dalam bahasa Inggris ia disebut halfbeak — “paruh separuh” — dan nama itu menjelaskan bentuknya dengan sangat tepat.

Satu hal yang sering membingungkan: “roa” dan “julung-julung” sebenarnya ikan yang sama, tetapi dipakai dalam konteks berbeda. Di Manado dan Gorontalo, orang menyebut “roa” ketika ikan itu sudah diasap dan siap dijadikan sambal. Kalau masih basah dan baru diangkat dari jaring, ia lebih sering disebut julung-julung.

Nama lokalnya banyak, tergantung daerah:

  • Roa — Sulawesi Utara dan Gorontalo, umumnya untuk yang sudah diasap
  • Julung-julung — sebutan umum di banyak daerah
  • Sagela — Gorontalo
  • Gepe dan galafea — sebutan di sebagian wilayah Sulawesi dan Maluku

Ciri Ikan Roa yang Membedakannya dari Ikan Lain

Potret dekat ikan roa memperlihatkan deretan bercak hitam di sisi badan dan rahang atas pendek berbentuk segitiga

Sekali kamu tahu cirinya, ikan roa tidak mungkin tertukar dengan ikan lain:

  • Rahang bawah memanjang seperti jarum, sementara rahang atasnya tetap pendek dan segitiga kecil
  • Ujung rahang bawahnya berwarna merah — ini penanda paling khas dan mudah dilihat
  • Tubuh ramping memanjang, pipih, keperakan dengan punggung kehijauan
  • Pada Hemiramphus far ada deretan bercak hitam di sisi badan — itulah kenapa namanya black-barred halfbeak
  • Sirip ekor bercabang, dengan cuping bawah lebih panjang

Soal ukuran, penelitian di perairan Indonesia menemukan sebagian besar julung-julung yang tertangkap berada di kisaran 27–28 cm. Jadi ini ikan kecil — jauh dari ukuran ikan konsumsi besar seperti tuna atau tenggiri.

Kenapa Rahang Bawahnya Panjang Sebelah?

Ini pertanyaan yang paling sering muncul, dan jawabannya menjelaskan seluruh cara hidup ikan ini.

Rahang bawah yang memanjang itu bukan senjata untuk menusuk. Fungsinya lebih mirip alat penyapu. Ikan roa hidup tepat di bawah permukaan laut, dan ia berenang sambil menyapu permukaan air untuk menangkap plankton, krustasea kecil, dan serangga yang jatuh ke air.

Posisi mata dan mulutnya pun mendukung: keduanya mengarah ke atas dan ke depan, cocok untuk memangsa sesuatu yang berada di lapisan paling tipis dari kolom air.

Jangan tertukar dengan ikan cendro (todak). Ikan cendro juga bermoncong panjang dan sering dikira sama. Bedanya jelas kalau kamu perhatikan mulutnya:

  • Ikan roa / julung-julung — hanya rahang bawah yang panjang
  • Ikan cendro / todakkedua rahang sama-sama panjang dan penuh gigi tajam

Ikan cendro juga tumbuh jauh lebih besar dan bersifat pemangsa. Roa tidak. Roa adalah pemakan plankton yang berenang bergerombol di permukaan.

Ikan Roa Berasal dari Daerah Mana?

Ikan roa identik dengan Sulawesi Utara dan Gorontalo, tetapi sebarannya sebenarnya jauh lebih luas. Penelitian perikanan mencatat penangkapan julung-julung di banyak perairan Indonesia bagian tengah dan timur:

  • Sulawesi Utara — Kepulauan Sangihe dan Selat Bangka, Minahasa Utara
  • Gorontalo — Teluk Tomini dan pesisir Gorontalo Utara
  • Maluku — perairan Pulau Buru dan Pulau Gorom
  • Maluku Utara — Halmahera, Kepulauan Sula, dan Kayoa
  • Nusa Tenggara — Pulau Rote dan Teluk Ekas
  • Papua Barat — perairan sekitar Manokwari

Yang membuat roa terasa “milik Manado” bukan sebaran ikannya, melainkan tradisi mengolahnya. Di sanalah roa asap berkembang menjadi sambal yang dikenal seluruh Indonesia.

Penangkapannya juga musiman. Di Sangihe, julung-julung mendominasi tangkapan pada musim timur, sekitar Mei sampai September. Di Kepulauan Sula, catatan penelitian menunjukkan puncak tangkapan pada Maret sekitar 6,6 ton dan titik terendah pada April sekitar 5,1 ton.

Cara Nelayan Menangkap Ikan Roa

Bagian ini jarang diceritakan, padahal justru di sinilah letak menariknya.

Di Maluku dan Maluku Utara, julung-julung ditangkap dengan alat bernama soma giop, dioperasikan dari perahu yang disebut giok — berukuran sekitar 5 x 1,5 meter. Satu perahu diawaki kira-kira 12 orang: seorang masnait sebagai kapten, seorang juru mesin, dan sepuluh awak yang memasang serta menarik jaring.

Jaringnya dua lapis: jaring bermata 1 inci sebagai kantong di bawah perahu, dan jaring 2 inci di bagian atas. Ketika jaring sudah penuh, salah satu awak harus turun berenang untuk melepaskan ikan yang tersangkut supaya jaring bisa segera ditarik naik.

Tetapi yang paling menarik adalah cara mereka tahu kapan harus melaut. Nelayan tidak menebak. Mereka memperhatikan ikan sor — ikan mirip barakuda — yang melompat-lompat di permukaan air, dan itu bisa terlihat dari garis pantai.

Ikan sor melompat karena sedang memburu gerombolan julung-julung. Jadi ketika lompatan itu terlihat, nelayan tahu roa sedang mendekat ke pantai, dan mereka bergegas melaut. Pengetahuan itu diwariskan turun-temurun, tanpa alat apa pun.

Kenapa Ikan Roa Hampir Selalu Dijual dalam Bentuk Asap?

Ada dua alasan, dan keduanya masuk akal.

Pertama, ikan ini cepat rusak. Roa berukuran kecil dan hidup di permukaan laut hangat. Begitu diangkat dari air, mutunya turun cepat — apalagi ditangkap oleh nelayan kecil yang jauh dari pabrik es. Pengasapan adalah cara mengawetkan yang paling masuk akal secara teknis maupun ekonomi. Prinsipnya sama seperti pengalengan yang membuat ikan sarden bisa menjelajah dunia: ikan kecil yang mudah busuk baru bernilai besar setelah diawetkan.

Kedua, nilainya melonjak. Sebuah penelitian mencatat julung-julung mentah dihargai sekitar Rp250 per ekor, sementara yang sudah diasap laku sekitar Rp1.000 per ekor. Naik sekitar empat kali lipat hanya dari proses pengasapan. Angka ini berasal dari data penelitian dan tentu berbeda dengan harga sekarang, tetapi perbandingannya menjelaskan kenapa nyaris tidak ada yang menjual roa dalam keadaan mentah.

Prosesnya sendiri masih sangat tradisional: ikan dijepit atau ditusuk, lalu diasapi di atas bara kayu. Penelitian di Gorontalo Utara membandingkan bahan bakarnya dan menemukan kayu bakau menghasilkan panas lebih tinggi daripada sabut kelapa, membuat tekstur ikan lebih kering dan padat — dan panelis menilai rasanya lebih disukai.

Belakangan mulai dikembangkan metode asap cair, yang mengandung senyawa fenol dan asam organik sebagai antibakteri sekaligus antioksidan. Tujuannya membuat mutu lebih seragam dan lebih higienis dibanding pengasapan terbuka.

Sambal Roa dan Cara Menikmatinya

Sambal roa dalam mangkuk merah disandingkan dengan pisang goroho goreng, sajian khas Sulawesi Utara
Foto: Sofi Solihah / Wikimedia Commons, CC BY 4.0

Roa asap yang sudah kering disuwir halus, lalu ditumis bersama cabai, bawang merah, bawang putih, dan tomat. Hasilnya sambal roa — pedas, gurih, dan beraroma asap yang tidak bisa ditiru sambal lain.

Daging roa yang sudah diasap teksturnya berserat dan kering, jadi ia menyerap bumbu tanpa membuat sambal jadi berair. Itulah sebabnya ikan ini cocok betul untuk sambal, sementara ikan berdaging lembut tidak.

Di Sulawesi Utara, sambal roa biasanya disandingkan dengan:

  • Tinutuan — bubur Manado berisi sayuran dan labu
  • Pisang goroho goreng — pisang khas Sulawesi Utara yang gurih, bukan manis
  • Nasi hangat, ikan bakar, atau sekadar dicocol dengan gorengan

Pola ini mirip dengan olahan ikan daerah lain di Sulawesi, seperti racci khas Pulau Sembilan di Sinjai — bahan lautnya sederhana, tetapi cara mengolahnya yang membuat hidangan itu punya identitas.

Cara Memilih Ikan Roa Asap yang Bagus

Karena roa dijual dalam bentuk sudah diolah, kamu tidak bisa memakai patokan ikan segar biasa. Ini yang perlu diperhatikan:

  • Permukaannya mengilap, bukan kusam. Permukaan kusam menandakan bahan bakunya sudah kurang baik sejak awal, atau penyimpanannya buruk.
  • Dagingnya rapat dan utuh. Daging yang menganga atau mudah rontok menandakan ikan sudah tidak segar sebelum diasap.
  • Baunya asap, bukan tengik. Aroma tengik berarti lemak ikan sudah teroksidasi — roa termasuk ikan yang cukup berlemak, jadi ini perlu dicek.
  • Tidak ada jelaga atau bagian gosong. Kerak hitam yang menempel menandakan pengasapan tidak terkendali dan penanganan yang kurang bersih.
  • Kering merata, tidak lembap di bagian tengah. Bagian yang masih lembap adalah tempat jamur mulai tumbuh lebih dulu.

Satu hal yang perlu diingat: pada ikan utuh, bagian insang dan perut yang lebih dulu menunjukkan kemunduran mutu. Pada roa asap, isi perut umumnya sudah dibuang sebelum diasap, sehingga yang tersisa untuk diperiksa adalah aroma dan tekstur dagingnya.

Simpan roa asap dalam wadah tertutup rapat. Kalau tidak akan segera dipakai, masukkan ke freezer — asap memperlambat pembusukan, tetapi tidak menghentikannya.

Apakah Populasi Ikan Roa Aman?

Ini bagian yang jarang dibahas, tapi penting.

Catatan dari perairan Kataloka, Pulau Gorom, Maluku, menunjukkan penurunan hasil tangkapan sekitar 150 kg pada periode 2015–2016. Nelayan setempat sendiri mengakui sebagian ikan yang mereka tangkap berada dalam kondisi hampir memijah — dikenali dari gerakannya yang melambat dan tubuhnya yang terasa berat karena gonadnya sudah matang.

Menangkap ikan tepat sebelum ia bertelur berarti memotong satu siklus reproduksi sekaligus. Kalau berlangsung terus-menerus, hasil tangkapan tahun-tahun berikutnya ikut menyusut. Nelayan di sana pun sudah menyuarakan kekhawatiran yang sama.

Belum ada larangan khusus untuk penangkapan julung-julung. Tetapi bagi kamu yang membeli, memilih produsen yang menangkap di luar musim pemijahan adalah bentuk dukungan paling sederhana yang bisa diberikan.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Ikan roa sama dengan ikan cakalang?
Tidak. Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah kerabat tuna yang bisa mencapai beberapa kilogram. Roa adalah julung-julung, ikan kecil sekitar 27–28 cm dari suku yang sama sekali berbeda. Keduanya memang sama-sama sering diasap di Sulawesi Utara, dan di situlah orang mulai tertukar.

Ikan roa hidup di air laut atau air tawar?
Air laut. Ia hidup di lapisan permukaan perairan pesisir, sering di sekitar padang lamun dan terumbu dangkal.

Kenapa di Gorontalo disebut sagela?
Sagela adalah nama lokal Gorontalo untuk ikan yang sama. Sambal sagela dan sambal roa pada dasarnya memakai bahan utama yang sama, hanya berbeda sebutan dan sedikit berbeda racikan bumbunya.

Apakah ikan roa bisa dimakan segar tanpa diasap?
Bisa, dan di daerah penangkapannya memang ada yang menggorengnya langsung. Hanya saja ikan ini cepat menurun mutunya, sehingga di luar daerah asalnya hampir mustahil menemukannya dalam keadaan segar.

Ikan roa dan julung-julung apakah beda?
Ikan yang sama. “Roa” lebih sering dipakai untuk menyebut bentuk asapnya, “julung-julung” untuk ikannya secara umum.

Penutup

Ikan roa adalah contoh bagus tentang bagaimana ikan kecil bisa jauh lebih dikenal lewat olahannya ketimbang lewat wujud aslinya. Kebanyakan orang hafal rasa sambalnya, tapi belum pernah melihat ikannya berenang.

Padahal ceritanya menarik: ikan bermulut panjang sebelah yang menyapu plankton di permukaan laut, ditangkap dengan cara membaca lompatan ikan pemangsa dari garis pantai, lalu diasapi di atas bara kayu bakau sampai nilainya naik empat kali lipat.

Lain kali kamu membuka toples sambal roa, setidaknya kamu tahu ikan seperti apa yang ada di dalamnya.

Link will be apear in 3 seconds.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel