Ikan Lemuru: Asal Sarden Kalengan yang Kini Menghilang

Ikan Sardinella gibbosa diletakkan di samping penggaris, kerabat dekat ikan lemuru dengan tubuh keperakan bergaris kuning

Ikan lemuru (Sardinella lemuru) adalah ikan pelagis kecil dari Selat Bali yang selama puluhan tahun menjadi bahan utama sarden kalengan Indonesia. Tangkapannya terus merosot sejak sekitar 2009 akibat tekanan penangkapan sejak pukat cincin masuk pada 1972 dan perubahan iklim yang mengacaukan upwelling. Sejak 2017, sekitar 80 persen ikan pengalengan Indonesia justru impor.

Kaleng sarden yang ada di dapurmu kemungkinan besar berisi ikan lemuru. Atau setidaknya, dulu begitu.

Lemuru adalah ikan kecil dari Selat Bali yang selama puluhan tahun menyangga industri pengalengan ikan Indonesia. Dulu begitu berlimpah sampai harganya nyaris tidak berarti. Sekarang ceritanya berbeda.

Artikel ini membahas ikannya, kenapa ia hanya berlimpah di satu selat, dan satu fakta yang jarang diketahui tentang isi kaleng sarden Indonesia hari ini.

Lemuru dan Sarden Itu Ikan yang Sama

Nama ilmiahnya Sardinella lemuru, sering disebut lemuru bali. Ia ikan pelagis kecil dari suku Clupeidae.

Yang perlu diluruskan: “sarden” bukan nama ikan, melainkan nama produk. Sarden adalah sebutan untuk ikan kecil yang dikalengkan. Di Indonesia, ikan yang dikalengkan itu terutama lemuru.

Jadi ketika kamu membeli sekaleng sarden lokal, yang kamu beli sebenarnya lemuru — ikan yang sejarah panjangnya sudah kami bahas terpisah dalam sejarah ikan sarden.

Satu Ikan, Empat Nama — Tergantung Ukurannya

Nelayan Selat Bali tidak menyebut semua lemuru dengan satu nama. Namanya berganti mengikuti panjang tubuhnya:

Nama Panjang tubuh
Sempenit kurang dari 11 cm
Protolan 11–15 cm
Lemuru lebih dari 15 sampai 18 cm
Lemuru kucing lebih dari 18 cm

Penamaan seperti ini bukan kebetulan. Ikan yang benar-benar penting bagi penghidupan sehari-hari cenderung punya banyak nama — sama seperti sidat yang punya empat sebutan mengikuti fase hidupnya.

Sebarannya di dalam selat pun tidak merata: lemuru berukuran kecil umumnya berada di bagian utara, sementara yang berukuran besar di bagian tengah dan selatan.

Kenapa Selat Bali? Jawabannya Upwelling

Pemandangan Selat Bali dari pesisir Banyuwangi, Jawa Timur, perairan tempat ikan lemuru ditangkap
Foto: Taha9009 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
Lemuru ada di banyak tempat, tetapi hanya di Selat Bali ia berkumpul dalam jumlah yang sanggup menghidupi sebuah industri. Penyebabnya satu proses laut bernama upwelling.

Pada musim timur — kira-kira akhir April sampai awal Oktober — arus mendorong air dalam yang kaya hara naik ke permukaan. Hara itu memicu ledakan plankton, dan lemuru datang untuk memakannya.

Ini juga menjelaskan kenapa lemuru bergizi. Omega-3 sebenarnya tidak diproduksi oleh ikan — sumbernya mikroalga dan plankton nabati. Ikan kecil pemakan plankton seperti lemuru dan ikan kembung berada paling dekat dengan sumber itu, tanpa perlu menunggu rantai makanan yang panjang.

Karena bergantung pada proses laut, hasil tangkapannya ikut bergerak mengikuti iklim: produksi lemuru cenderung naik saat El Niño dan turun saat La Niña.

1972: Pukat Cincin dan Awal Ledakannya

Perikanan lemuru modern di Selat Bali bermula ketika pukat cincin diperkenalkan pada 1972. Alat itu mengubah skala tangkapan sepenuhnya.

Muncar di Banyuwangi tumbuh jadi salah satu pusat perikanan terbesar di Indonesia, dengan pabrik-pabrik pengalengan berdiri di sekitarnya.

Berlimpahnya luar biasa. Pada musim panen, harga lemuru pernah hanya Rp1.500 sampai Rp3.000 per kilogram — murah sampai sebagian tangkapan terbuang begitu saja.

Setelah 2009, Tangkapan Terus Merosot

Titik baliknya datang sekitar 2009. Sejak itu tangkapan lemuru di Muncar terus turun, dan tidak pernah benar-benar pulih.

Harganya bergerak berlawanan arah. Dari Rp1.500 per kilogram di masa berlimpah, lemuru kini bisa mencapai Rp20.000 per kilogram.

Penyebabnya bertumpuk: tekanan penangkapan yang terus meningkat sejak 1972, perubahan pola iklim yang mengacaukan upwelling, dan sifat lemuru sendiri yang populasinya memang berfluktuasi tajam.

Fakta yang Paling Pahit

Sekaleng sarden yang baru dibuka, berisi ikan kecil tanpa kulit dan tulang dalam minyak
Inilah bagian yang jarang sampai ke konsumen.

Sejak 2017, sekitar 80 persen ikan yang dipakai pabrik pengalengan ikan di Indonesia adalah ikan impor — termasuk pabrik yang berdiri di Muncar sendiri. Sisanya yang 20 persen didatangkan dari perairan Indonesia timur.

Artinya pabrik sarden yang dibangun tepat di tepi Selat Bali, karena dulu lemurunya berlimpah di depan mata, sekarang mendatangkan ikan dari tempat lain untuk mengisi kalengnya.

Apa Artinya bagi Muncar

Angka tangkapan yang turun terdengar abstrak sampai kamu melihat kota yang dibangun di atasnya.

Muncar bukan sekadar tempat lemuru didaratkan. Seluruh kota itu tumbuh mengikuti ikannya: pabrik pengalengan, pabrik tepung ikan, tempat pengasinan, bengkel kapal, pemasok es, buruh sortir, sampai warung-warung yang hidup dari upah harian mereka.

Ketika lemuru menghilang, yang berhenti bukan cuma perahu. Nelayan yang dulu mengeluh tangkapannya terlalu banyak sampai sebagian dibuang, belakangan mengeluhkan hal sebaliknya.

Ini bagian yang sering hilang dari pembicaraan soal perikanan berkelanjutan. Yang dipertaruhkan bukan cuma populasi ikan, melainkan penghidupan yang terlanjur dibangun dengan asumsi ikan itu tidak akan pernah habis.

Pola yang Terus Berulang

Cerita lemuru bukan cerita tunggal. Bentuknya sama dengan beberapa perikanan bernilai tinggi lain di Indonesia:

  • Ikan sidat — benihnya masih seluruhnya diambil dari alam karena belum bisa dipijahkan
  • Telur ikan terbang — penangkapannya terbuka tanpa pembatasan yang jelas

Polanya berulang: sebuah komoditas ternyata bernilai besar, tekanan penangkapan naik jauh lebih cepat daripada aturannya, lalu hasilnya menyusut dan semua pihak kaget.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa beda ikan lemuru dan sarden?
Tidak berbeda. Lemuru adalah nama ikannya (Sardinella lemuru), sedangkan sarden adalah nama produk ikan kalengan. Di Indonesia, sarden kalengan terutama dibuat dari lemuru.

Kenapa lemuru banyak di Selat Bali?
Karena di sana terjadi upwelling pada musim timur, sekitar akhir April sampai awal Oktober. Proses itu menaikkan hara dari laut dalam, memicu ledakan plankton yang jadi makanan lemuru.

Apa itu sempenit dan protolan?
Nama lemuru menurut ukurannya. Sempenit kurang dari 11 cm, protolan 11–15 cm, lemuru lebih dari 15 sampai 18 cm, dan lemuru kucing lebih dari 18 cm.

Apakah sarden kalengan Indonesia memakai ikan lokal?
Sebagian besar tidak lagi. Sejak 2017 sekitar 80 persen bahan bakunya adalah ikan impor, sisanya dari perairan Indonesia timur.

Kenapa tangkapan lemuru menurun?
Tekanan penangkapan yang meningkat sejak masuknya pukat cincin pada 1972, ditambah perubahan pola iklim yang memengaruhi upwelling.

Penutup

Lemuru adalah ikan yang pernah begitu berlimpah sampai dianggap tidak berharga, lalu menjadi langka justru setelah orang menyadari nilainya.

Yang tersisa dari masa itu adalah pabrik-pabrik pengalengan di tepi Selat Bali — masih berdiri, masih berproduksi, tetapi kalengnya kini diisi ikan dari tempat lain.

Lain kali membuka sekaleng sarden, ada baiknya ingat bahwa isinya belum tentu berasal dari laut yang namanya tertulis di kemasan.

Link will be apear in 3 seconds.

Allell Menulis panduan praktis di Sumber Tips (TV satelit, receiver parabola, set top box), Kepo Indonesia, dan Mataikan. Artikel ditulis dari pengalaman memakai perangkatnya langsung, dengan ketentuan yang dicek ke sumber resmi. Tentang saya: https://www.sumbertips.com/p/about.html

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel