Ikan Discus: Cara Merawat untuk Pemula dan Fakta Anakannya
![]() |
| Foto: Andrey Butko / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0 |
Discus butuh air bersih yang stabil bersuhu sekitar 28–31°C dengan pH 6,5–7,0, akuarium tinggi sekitar 190 liter ke atas, dan dipelihara berkelompok. Di Indonesia, suhu ruang sudah mendekati kebutuhannya. Fakta uniknya, anakan discus memakan lendir dari kulit kedua induknya selama sekitar tiga minggu pertama.
Discus dijuluki raja akuarium air tawar, dan reputasinya sebagai ikan yang susah dipelihara sudah melekat lama.
Sebagian reputasi itu benar. Tetapi ada satu hal yang jarang disadari penghobi Indonesia: kendala terbesar yang dikeluhkan penghobi discus di luar negeri justru hampir tidak berlaku di sini.
Artikel ini membahas cara merawatnya, dan satu fakta tentang anakan discus yang sulit dipercaya kalau belum membaca penelitiannya.
Anakan Discus Minum “Susu” dari Kulit Induknya
Ini bukan kiasan.
Setelah menetas dan mulai berenang bebas, anakan discus menempel di tubuh induknya dan memakan lendir yang keluar dari kulit induk itu. Selama sekitar tiga minggu pertama, itulah satu-satunya makanan mereka, seperti dicatat penelitian di Scientific Reports.
Yang membuatnya lebih menakjubkan: penelitian di Journal of Experimental Biology menemukan komposisi lendir itu berubah seiring pertumbuhan anakannya — persis seperti susu mamalia yang berubah mengikuti kebutuhan bayi.
Di dalamnya ditemukan protein untuk pasokan energi, perbaikan sel, penanganan stres, dan pertahanan tubuh. Tanpa lendir itu, tingkat kematian anakan sangat tinggi.
Ada satu perbedaan penting dari mamalia. Pada mamalia, seluruh beban menyusui ditanggung induk betina. Pada discus, kedua induk sama-sama menyediakannya, bergantian menggendong anakannya di tubuh masing-masing.
Kenapa Discus Dianggap Susah
Reputasi itu bukan mitos. Discus memang menuntut lebih dari kebanyakan ikan hias:
- Sangat peka terhadap kualitas air. Lonjakan amonia dan nitrat adalah penyebab kematian paling umum, jauh sebelum penyakit lain sempat datang.
- Peka terhadap perubahan mendadak. Bukan nilai pH atau suhunya yang paling menentukan, melainkan kestabilannya.
- Ikan berkelompok. Dipelihara sendirian atau berdua, discus jadi penakut dan mudah stres.
- Bentuk tubuhnya menuntut akuarium khusus — ini dibahas di bawah.
Justru Indonesia Salah Satu Tempat Termudah untuk Discus
Ini yang jarang disebut, karena hampir semua panduan discus ditulis untuk negara beriklim sedang.
Discus membutuhkan suhu air sekitar 28–31°C — jauh lebih hangat daripada kebanyakan ikan hias. Di Eropa atau Amerika, itu berarti pemanas air yang menyala terus-menerus, biaya listrik tambahan, dan risiko besar kalau pemanasnya rusak.
Di Indonesia, suhu ruangan sudah berada di kisaran itu hampir sepanjang tahun.
Artinya rintangan yang paling sering membuat penghobi luar negeri menyerah justru nyaris gratis di sini. Kalau kamu pernah membaca bahwa discus itu mahal dirawat, sebagian besar biaya itu adalah biaya pemanas yang tidak kamu butuhkan.
Tetapi ada syaratnya: yang penting bukan hangat, melainkan stabil. Perhatikan tiga hal yang diam-diam menurunkan suhu air:
- Ruangan ber-AC, terutama kalau akuarium dekat embusan anginnya
- Musim hujan panjang, saat suhu ruang bisa turun beberapa derajat
- Penggantian air dengan air yang jauh lebih dingin dari air akuarium
Akuarium: Harus Tinggi, Bukan Cuma Panjang
Akuarium yang panjang tetapi rendah membuat discus tidak bisa bergerak dengan wajar. Jadi perhatikan tingginya, bukan cuma panjangnya. Volume yang biasa disarankan untuk sekelompok discus adalah sekitar 190 liter ke atas.
Soal jumlah, discus perlu dipelihara berkelompok. Ini kebalikan dari ikan channa atau louhan yang justru harus sendirian — padahal ketiganya sama-sama siklid. Jangan menyamakan perlakuannya hanya karena satu keluarga.
Air
![]() |
| Foto: Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0 |
- Suhu — sekitar 28–31°C, dijaga stabil
- pH — sekitar 6,5–7,0, condong sedikit asam
- Amonia dan nitrat — ini musuh utamanya, bukan pH
- Penggantian air — rutin dan sebagian, dengan air yang suhunya sudah disamakan
Discus juga butuh air yang beroksigen baik. Ia tidak punya organ pernapasan tambahan, jadi ia bukan termasuk ikan yang bisa hidup tanpa aerator.
Pakan, dan Perdebatan Soal Jantung Sapi
Pakan discus umumnya cacing darah beku, artemia, dan pelet khusus discus. Sesekali bisa ditambah sayuran seperti bayam rebus atau pelet spirulina.
Yang jadi perdebatan adalah jantung sapi — pakan yang lama dipakai peternak discus karena memacu pertumbuhan.
Alasan penolakannya masuk akal:
- Bukan makanan alaminya. Discus ikan sungai Amazon menurut FishBase; daging mamalia tidak pernah jadi bagian dari makanannya.
- Kandungan lemak jenuhnya tinggi — bisa di atas 18 persen — dan berlebihan bisa mengganggu pencernaannya.
- Cepat mengotori air. Ini yang paling berbahaya, karena kualitas air justru titik lemah discus.
Jalan tengah yang biasa dipakai: berikan sebagai variasi saja, sekitar dua sampai tiga kali seminggu, bukan sebagai pakan utama. Dan sedot sisa pakannya segera.
Umur dan Ukuran
Discus bisa tumbuh sampai sekitar 19 sentimeter, dan umurnya 10–15 tahun — sebagian mencapai lebih.
Jadi ini bukan ikan musiman. Membeli sekelompok discus berarti menyiapkan diri untuk satu dekade lebih.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Benarkah anakan discus makan lendir induknya?
Benar. Selama sekitar tiga minggu pertama setelah berenang bebas, anakan discus hanya memakan lendir dari kulit kedua induknya. Komposisi lendir itu bahkan berubah mengikuti pertumbuhan anakannya.
Apakah discus butuh heater di Indonesia?
Sering kali tidak, karena suhu ruangan di Indonesia sudah mendekati kebutuhannya. Yang perlu dijaga adalah kestabilannya — hati-hati dengan ruangan ber-AC dan penggantian air yang terlalu dingin.
Berapa ekor discus minimal?
Discus ikan berkelompok dan tidak cocok dipelihara sendirian. Peliharalah dalam kelompok, dengan akuarium yang menyesuaikan jumlahnya.
Kenapa akuarium discus harus tinggi?
Karena bentuk tubuhnya pipih dan bundar seperti cakram, sehingga butuh ruang vertikal untuk bergerak wajar.
Bolehkah discus diberi jantung sapi?
Boleh sebagai variasi, tetapi jangan jadi pakan utama. Lemak jenuhnya tinggi dan sisanya cepat mengotori air.
Berapa lama discus hidup?
Umumnya 10–15 tahun dengan perawatan yang baik.
Penutup
Discus adalah ikan Amazon — sama seperti kebanyakan ikan hias populer di akuarium Indonesia yang bukan asli perairan kita. Ia tidak punya sungai di sini untuk dikembalikan, jadi jangan pernah melepasnya ke perairan umum.
Reputasinya sebagai ikan susah sebagian besar berasal dari tuntutan suhunya — dan itu justru bagian yang paling murah buat kita. Yang tersisa adalah pekerjaan yang sama untuk semua ikan: air yang bersih, stabil, dan diganti dengan rajin.
Kalau kamu sanggup melakukan itu selama sepuluh tahun, discus bukan ikan yang sulit. Ia cuma ikan yang jujur soal seberapa rajin pemiliknya.
Link will be apear in 3 seconds.


