Beda Ikan Kakap Merah dan Kakap Putih
| Foto: Raja bandi via Wikimedia Commons, CC BY 4.0 |
Kakap merah dan kakap putih bukan saudara dekat. Kakap merah adalah marga Lutjanus (famili Lutjanidae) yang hidup di laut dan hampir seluruhnya hasil tangkapan. Kakap putih adalah Lates calcarifer atau barramundi (famili Latidae) yang bisa hidup di air laut, payau, maupun tawar, dan banyak dibudidayakan di tambak serta keramba.
Namanya sama-sama "kakap", jadi wajar kalau banyak orang mengira keduanya cuma beda warna. Padahal, di dunia biologi, kakap putih dan kakap merah dipisahkan di tingkat famili. Kasusnya mirip dengan beda ikan tongkol, cakalang, dan tuna: nama pasar sering menyatukan ikan yang sebenarnya berjauhan.
Perbedaan itu bukan sekadar urusan nama latin. Habitat, cara ikan itu sampai ke pasar, tekstur dagingnya, sampai cara memasak yang paling cocok ikut berbeda. Di bawah ini ringkasannya, lengkap dengan cara membedakan saat kamu berdiri di depan lapak ikan.
Ringkasnya, Apa Bedanya?
Kakap merah adalah sebutan pasar untuk beberapa spesies Lutjanus berwarna merah atau jingga, misalnya Lutjanus malabaricus dan Lutjanus erythropterus. FishBase mencatat L. malabaricus hidup di perairan laut pada kedalaman sekitar 12 sampai 100 meter, tersebar dari Teluk Persia dan Laut Arab sampai Fiji, ke utara sampai Jepang bagian selatan dan ke selatan sampai Australia. Di Indonesia, kakap merah termasuk komoditas perikanan tangkap bernilai ekonomi tinggi, dan stoknya rutin diteliti di banyak perairan, dari Laut Cina Selatan sampai Teluk Saleh di NTB.
Kakap putih adalah satu spesies saja, Lates calcarifer, yang di luar negeri dikenal sebagai barramundi atau Asian seabass. Ikan ini bersifat katadromus: tumbuh di sungai atau muara, lalu kembali ke perairan payau dan pantai untuk memijah. Karena gampang beradaptasi, kakap putih menjadi salah satu komoditas budidaya laut unggulan dan banyak dipelihara di keramba jaring apung maupun tambak, mirip nasib ikan bandeng yang juga akrab dengan air payau.
Tabel Perbandingan Kakap Merah dan Kakap Putih
| Aspek | Kakap merah | Kakap putih |
|---|---|---|
| Nama ilmiah | Beberapa spesies Lutjanus (mis. L. malabaricus, L. erythropterus) | Lates calcarifer |
| Famili | Lutjanidae (snapper) | Latidae (lates perch) |
| Nama lain | Red snapper | Barramundi, Asian seabass |
| Habitat | Laut, dasar berkarang atau berlumpur | Laut pesisir, muara, laguna, sungai |
| Warna | Merah sampai jingga, perut lebih pucat | Perak keabu-abuan, punggung lebih gelap |
| Kepala dan mulut | Kepala tinggi, dahi melengkung | Kepala runcing, dahi cekung, mulut besar sampai belakang mata |
| Ekor | Lurus (truncate) sampai sedikit bercagak | Membulat |
| Asal di pasar | Hampir seluruhnya tangkapan laut | Banyak dari budidaya tambak dan keramba |
| Harga relatif | Cenderung lebih mahal dan naik turun mengikuti musim tangkap | Cenderung lebih stabil karena pasokan budidaya |
Soal harga, angkanya sangat bergantung pada ukuran, kesegaran, daerah, dan musim, jadi anggap baris terakhir sebagai kecenderungan umum, bukan patokan.
Ciri Fisik: Bukan Cuma Soal Warna
| Foto: Phương Huy via Wikimedia Commons, domain publik |
Warna memang pembeda paling mencolok, tetapi bukan satu-satunya. Kakap merah berbadan relatif tinggi dengan kepala yang dahinya melengkung. Sirip punggungnya menyambung panjang, dengan 11 jari-jari keras di bagian depan menurut FishBase. Ekornya cenderung lurus di ujung. Anakan L. malabaricus bahkan punya pita gelap miring dari rahang atas ke awal sirip punggung, yang memudar saat dewasa.
Kakap putih bentuknya lebih memanjang. Profil kepalanya khas: dahi sedikit cekung, moncong runcing, dan mulut yang besar sampai melewati bagian belakang mata. Tutup insangnya bergerigi dengan duri kuat di tepi bawah. Sirip punggungnya punya 7 sampai 9 jari-jari keras yang berdiri tegak, dan ekornya membulat, bukan lurus.
Satu fakta biologi yang sering bikin kaget: kakap putih adalah hermafrodit protandri. Kebanyakan individu matang sebagai jantan dulu, lalu sebagian berubah menjadi betina ketika ukurannya sudah besar. Kakap merah tidak dikenal punya pola seperti ini.
Habitat, Rasa, dan Cara Memasaknya
Karena hidup di laut yang lebih dalam, kakap merah ditangkap dengan pancing rawai, pancing ulur, atau bubu, lalu dijual segar maupun beku. Dagingnya putih, padat, dan rasanya ringan agak manis. Kepala kakap merah yang besar populer untuk gulai atau sup kepala ikan, sementara ikan utuh ukuran sedang cocok dibakar atau digoreng.
Kakap putih budidaya biasanya dipanen dalam ukuran seragam, sehingga sering muncul sebagai fillet di supermarket dan restoran. Dagingnya juga putih, lembut, dengan serat yang lebih lepas dibanding kakap merah. Karena itu kakap putih enak dikukus, dibuat pepes, atau fillet dipanggang. Satu catatan jujur: kakap putih yang dipelihara di air tawar atau tambak berlumpur kadang meninggalkan bau tanah. Ini soal lingkungan pemeliharaan, bukan sifat bawaan spesiesnya.
Kalau kamu senang membandingkan ikan laut konsumsi lain, bedanya mirip cerita ikan kembung lelaki dan perempuan: nama pasar yang mirip menyimpan perbedaan tekstur dan cara masak yang nyata.
Cara Membedakan di Lapak Ikan
Kalau ikannya masih utuh, lakukan pengecekan cepat ini:
- Lihat warna dasar badan. Merah atau jingga merata mengarah ke kakap merah, walau ada ikan laut merah lain yang sekilas mirip. Perak keabu-abuan adalah kakap putih.
- Perhatikan profil kepala. Dahi cekung dan moncong runcing adalah ciri kakap putih. Dahi melengkung dan kepala tinggi mengarah ke kakap merah.
- Cek bentuk ekor. Ekor membulat untuk kakap putih, ekor lurus di ujung untuk kakap merah.
- Tanyakan asal ikannya. Penjual biasanya tahu apakah ikan dari tambak atau hasil melaut.
Masalahnya muncul kalau ikan sudah menjadi fillet tanpa kulit. Di tahap ini, keduanya sulit dibedakan dengan mata telanjang. Cara paling aman adalah membeli ikan utuh lalu meminta penjual memfilletnya di depanmu. Tanda kesegarannya sama dengan ikan lain: mata jernih, insang merah segar, dan daging kenyal saat ditekan. Soal bagian ikan yang paling cepat menurun kesegarannya, simak juga artikel benarkah ikan membusuk mulai dari kepala.
Kakap Merah Bakau, Si Pengecualian
Ada satu anggota Lutjanus yang membuat batas "laut vs payau" jadi kabur, yaitu kakap merah bakau (Lutjanus argentimaculatus). Spesies ini masuk ke muara dan hutan bakau, dan pembenihannya sudah dikerjakan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo. Meski begitu, ia tetap kerabat kakap merah, bukan kakap putih. Warnanya cenderung merah kecokelatan, jadi di pasar sering tetap disebut kakap merah.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah kakap putih sama dengan barramundi?
Ya. Kakap putih, barramundi, dan Asian seabass adalah nama untuk spesies yang sama, yaitu Lates calcarifer.
Apakah kakap merah dan kakap putih masih satu keluarga?
Tidak. Kakap merah termasuk famili Lutjanidae, sedangkan kakap putih termasuk famili Latidae. Kesamaan nama "kakap" hanya berasal dari kebiasaan pasar.
Apakah kakap putih bisa hidup di air tawar?
Bisa. Kakap putih hidup di air laut, payau, maupun tawar. Di alam ia tumbuh di sungai dan muara, lalu kembali ke perairan payau untuk memijah.
Mana yang lebih enak, kakap merah atau kakap putih?
Tergantung selera dan masakannya. Kakap merah lebih padat dan cocok dibakar atau digulai, sedangkan kakap putih lebih lembut dan cocok dikukus atau dibuat fillet.
Apakah kakap merah juga dibudidayakan?
Sebagian kecil, terutama kakap merah bakau yang pembenihannya sudah dilakukan di balai budidaya air payau. Namun kakap merah di pasar sebagian besar masih hasil tangkapan laut.
Penutup
Kakap merah dan kakap putih hanya berbagi nama. Kakap merah adalah ikan laut dari famili Lutjanidae yang sebagian besar ditangkap, sedangkan kakap putih adalah barramundi dari famili Latidae yang tahan air payau dan tawar serta banyak dibudidayakan. Cara termudah membedakannya: warna badan, bentuk dahi, dan bentuk ekor. Kalau ingin menjelajah ikan laut konsumsi lain, coba baca juga ulasan ikan cakalang, manfaat dan cara memilihnya.
Sumber: lembar spesies FishBase untuk Lutjanus malabaricus dan Lates calcarifer; Teknik pembenihan ikan kakap merah bakau (Lutjanus argentimaculatus) di BPBAP Situbondo, jurnal Filogeni.
Link will be apear in 3 seconds.