Lampu Akuarium: 8 atau 12 Jam, Bukan 24 Jam

Akuarium air tawar bertanaman lebat berisi ikan neon tetra di bawah cahaya lampu, dengan pita biru bertuliskan Lampu Akuarium 8 atau 12 Jam
Foto: The Wandering Angel from Makati City, Philippines / Wikimedia Commons, CC BY 2.0, diberi teks judul oleh Mataikan

Ringkasan cepat

  • Pertanyaannya terlihat sederhana padahal jawaban yang beredar saling bertentangan, dan hampir tidak ada yang menyebut dari mana angkanya diambil.
  • Percobaan yang ada menguji ujung-ujungnya, sehingga perbedaan besar baru muncul saat cahaya dimatikan seharian atau dibiarkan menyala terus.
  • Alasan paling populer untuk memperpendek durasi ternyata paling lemah dasarnya, karena pengukuran langsung tidak menemukan hubungan yang dicari.

Jawaban langsung: Angka yang paling sering disebut, 8 jam dan 12 jam, dua-duanya punya dasar. Pada percobaan cupang selama 150 hari, frekuensi pemijahan di 8, 12, dan 16 jam sama-sama tinggi, sedangkan 20 dan 24 jam justru paling rendah. Jadi yang terbukti merugikan bukan pilihan di antara keduanya, melainkan lampu yang menyala hampir sepanjang hari.

Coba cari sendiri berapa jam lampu akuarium sebaiknya menyala. Satu halaman menyebut 6 sampai 8 jam, halaman berikutnya 8 sampai 10 jam, yang lain 12 jam, dan untuk akuarium karang ada yang menyebut 10 sampai 14 jam. Semuanya ditulis dengan nada yakin, dan tidak satu pun menyebut pengukuran yang jadi dasarnya.

Halaman ini mengambil jalan berbeda: mencari percobaan yang benar-benar mengatur jam lampunya, lalu melaporkan apa yang mereka temukan beserta batasnya. Kalau kamu baru mulai, panduan ikan hias untuk pemula memuat dasarnya lebih dulu.

Kenapa Angka yang Beredar Saling Bertentangan?

Karena masing-masing menjawab pertanyaan yang berbeda tanpa menyebutkannya.

Angka 6 sampai 8 jam hampir selalu muncul bersama alasan menekan lumut. Angka 10 sampai 12 jam muncul bersama alasan tanaman butuh cahaya untuk berfotosintesis. Angka yang lebih panjang lagi datang dari dunia akuarium karang, tempat hewannya memang hidup dari cahaya.

Tiga tujuan itu menarik ke arah yang berlawanan, jadi wajar kalau angkanya tidak pernah bertemu. Yang tidak wajar adalah menuliskannya tanpa menyebut tujuannya, sehingga pembaca mengira ada satu angka benar yang sedang diperdebatkan.

Pertanyaan yang lebih berguna bukan berapa jam yang paling benar, melainkan apa yang berubah saat jamnya diubah, dan pada siapa.

Apa yang Terjadi Kalau Lampu Menyala 24 Jam?

Inilah satu-satunya ujung yang buktinya cukup tegas, dan kebetulan datang dari ikan yang paling banyak dipelihara orang Indonesia.

Tim dari Universidade Estadual Paulista di Brasil memelihara 30 pasang cupang dewasa jenis super delta selama 150 hari. Tiap ikan ditaruh di akuarium 2 liter sendiri, suhu dijaga 28 derajat Celsius, airnya diganti tiap dua hari, pakan diberikan dua kali sehari sampai kenyang. Lampunya neon 20 watt yang diukur memberi 500 lux di dalam tiap tangki, dan dikendalikan timer.

Yang dibandingkan lima rezim cahaya: 24 jam menyala tanpa gelap sama sekali, 20 jam, 16 jam, 12 jam, dan 8 jam.

Hasilnya terbelah rapi. Frekuensi pemijahan nyata lebih tinggi pada kelompok 16, 12, dan 8 jam, sedangkan dua fotoperiode terpanjang, 20 jam dan 24 jam, justru yang paling jarang memijah. Fertilitas, fekunditas relatif, dan produksi telur mengikuti pola yang sama, dengan hasil terbaik di 16 dan 12 jam.

Selisih jumlah telurnya besar. Kelompok 16 jam menghasilkan rata-rata 545 telur per pemijahan dan kelompok 12 jam 471 telur, sementara kelompok 20 jam hanya 188 telur dan kelompok 24 jam 129 telur.

Satu hal yang menarik: ikan yang sedikit telurnya justru bertelur lebih besar. Perlakuan dengan fekunditas dan produksi telur terendah menghasilkan volume telur yang lebih besar, sedangkan volume kuning telurnya tidak berbeda. Jadi bukan telurnya yang lebih bermutu, melainkan jumlahnya yang dikompensasi ukuran.

Apakah 8 Jam Terlalu Sedikit?

Menurut percobaan yang sama, tidak. Kelompok 8 jam masuk ke golongan yang frekuensi pemijahannya tinggi, bersama 12 dan 16 jam.

Tetapi dia tidak sepenuhnya setara. Dalam hal fertilitas, fekunditas, dan jumlah telur per pemijahan, yang menonjol cuma 16 dan 12 jam. Kelompok 8 jam berada di rombongan yang telurnya lebih sedikit dan lebih besar, bersama 20 dan 24 jam.

Dengan kata lain, 8 jam tidak merugikan, tapi juga bukan yang terbaik kalau cupangmu memang sedang diharapkan bertelur banyak.

Lampu menyalaFrekuensi pemijahanTelur per pemijahanPertumbuhan tubuh
8 jamTinggiAngkanya tidak dilaporkan, masuk golongan yang lebih sedikitTidak berbeda
12 jamTinggi471Tidak berbeda
16 jamTinggi545Tidak berbeda
20 jamRendah188Tidak berbeda
24 jamRendah129Tidak berbeda

Kolom terakhir itu penting dan sering terlewat. Bobot akhir, panjang akhir, dan pertambahan bobot cupang sama saja di kelima rezim cahaya. Jadi kalau kamu memelihara cupang tanpa niat membiakkannya, jam lampu tidak akan terlihat pengaruhnya pada ikannya sendiri.

Benarkah Lampu Lebih Lama Membuat Ikan Lebih Cepat Besar?

Pada sebagian ikan, ya, dan selisihnya tidak kecil.

Seekor sepat bergaris bersisik cokelat dengan deretan garis biru kehijauan berenang dekat dasar berpasir
Foto: Sandipan Das / Wikimedia Commons, CC BY 4.0

Peneliti dari University of Lucknow memelihara sepat bergaris selama 90 hari di akuarium kaca yang ditutup kertas hitam di dalam ruang gelap, supaya tidak ada cahaya luar yang masuk. Lampunya neon putih 40 watt yang memberi 200 lux, dipasang 14 sentimeter di atas permukaan air. Empat kelompok masing-masing berisi 10 ikan, pakannya sama persis, 5 persen bobot badan per hari.

Kelompok kontrolnya gelap total, 24 jam tanpa cahaya. Tiga kelompok lain mendapat 8, 12, dan 16 jam cahaya.

Dari bobot awal yang sama, 1,11 gram, bobot akhirnya berjenjang rapi mengikuti lama cahaya: 2,53 gram di kelompok gelap, 2,80 gram di 8 jam, 3,60 gram di 12 jam, dan 4,00 gram di 16 jam. Panjang totalnya ikut berjenjang, dari 4,63 sentimeter sampai 7,02 sentimeter. Rasio konversi pakannya juga membaik searah, dari 0,30 di kelompok gelap menjadi 0,14 di kelompok 16 jam.

Yang paling layak diperhatikan bukan angka pertumbuhannya, melainkan apa yang terjadi di kelompok gelap. Kelangsungan hidupnya 80 persen, sementara tiga kelompok bercahaya seluruhnya 100 persen. Pengamatnya mencatat luka di badan dan sirip serta gerak renang yang tertekan hanya pada kelompok gelap itu. Tanda-tanda semacam itu dibahas terpisah di stres pada ikan.

Tiga catatan supaya angka di atas tidak dibawa terlalu jauh. Pertama, kontrolnya gelap total, keadaan yang tidak dialami akuarium rumahan mana pun, bahkan yang lampunya tidak pernah dinyalakan sekalipun. Kedua, tidak ada kelompok di atas 16 jam, jadi percobaan ini tidak bisa menjawab apakah menambah jam terus-menerus tetap menguntungkan. Ketiga, nama giant gourami yang dipakai makalah itu menyesatkan: ikannya sepat bergaris dari Asia Selatan, bukan gurami raksasa yang dikenal di sini.

Kalau Begitu Kenapa Tidak 16 Jam Saja?

Karena akuarium hiasmu bukan kolam pembesaran, dan percobaan cupang tadi sudah menunjukkan arah yang berlawanan di ujung yang lain.

Pertumbuhan cepat itu tujuan budi daya. Di akuarium rumahan, ikan yang tumbuh lebih cepat berarti ikan yang lebih cepat memenuhi ruang dan lebih cepat membebani filter. Kalau akuariummu sudah padat, menambah jam lampu untuk mengejar pertumbuhan justru memperburuk masalah yang lebih mendesak.

Lalu ada batas yang ditunjukkan cupang. Pada 20 dan 24 jam, pemijahan, fertilitas, dan produksi telurnya turun, dan penulisnya menghubungkan hal itu dengan fotoperiode yang keluar dari rentang yang dikenal spesies tersebut. Percobaan sepat tadi berhenti di 16 jam, jadi dia tidak pernah menguji wilayah itu.

Gabungan keduanya memberi gambaran yang masuk akal: naik dari gelap ke terang membawa perbaikan, tetapi perbaikan itu tidak berlanjut sampai lampunya menyala sepanjang hari.

Benarkah Memperpendek Jam Lampu Mengurangi Lumut?

Ini alasan yang paling sering dipakai untuk menyuruh orang mematikan lampu lebih cepat, dan justru dasarnya yang paling tipis.

Percobaan terdekat yang pernah mengukurnya secara langsung dilakukan di Ohio, Amerika Serikat, memakai 32 bak luar ruang berisi seribu liter air. Panjang harinya diatur berbeda antarbak, sekitar 12 jam 43 menit melawan sekitar 15 jam 8 menit, dengan selisih kurang lebih 2 jam 24 menit.

Lumut yang menempel di permukaan diukur dengan ubin yang digantung di dalam bak lalu dikerok di akhir percobaan. Hasilnya: tidak ada pengaruh panjang hari sama sekali, dengan nilai uji yang jauh dari ambang bermakna.

Penulisnya menyebut hasil itu memang sudah diduga, dan merujuk dua penelitian lain yang sampai pada kesimpulan senada bahwa panjang hari tampaknya tidak memengaruhi biomassa lumut menempel.

Jadi anjuran memperpendek jam lampu demi lumut bukan sesuatu yang pernah ditunjukkan hasil pengukuran, setidaknya bukan oleh penelitian yang bisa saya temukan.

Lumut di Kaca dan Air yang Menghijau Bukan Hal yang Sama

Perbedaan ini jarang dijelaskan, padahal buktinya memang berbeda.

Lumut yang menempel di kaca, batu, dan daun adalah satu jenis masalah. Air yang berubah hijau seperti kuah sayur adalah masalah lain, yang disebabkan alga melayang di air.

Pada percobaan Ohio tadi, keduanya diukur terpisah. Alga melayangnya juga tidak berbeda antarpanjang hari pada ketiga kali pengukuran. Tetapi penulisnya sendiri menyebut hasil itu berbeda dari percobaan lain, yang umumnya menemukan pertumbuhan alga melayang meningkat seiring panjangnya cahaya.

Mereka juga menyebut satu kemungkinan yang tidak bisa mereka tutup: ada berudu di dalam bak yang memakan alga tersebut, dan percobaannya tidak punya bak pembanding tanpa berudu. Jadi pengaruh cahaya bisa saja tertutup oleh pemangsaan.

Ringkasnya, untuk lumut menempel buktinya cukup konsisten bahwa panjang hari bukan penentunya. Untuk air yang menghijau, buktinya masih berbeda-beda, dan memperpendek jam lampu masih masuk akal untuk dicoba. Penyebab air keruh dan hijau dibahas lebih lengkap di kenapa air akuarium keruh padahal sudah pakai filter.

Apakah Semua Ikan Menanggapi dengan Cara yang Sama?

Tidak, dan ada satu percobaan yang hasilnya kosong sama sekali.

Tim dari Universidade Federal do Para menguji larva severum, ikan hias asal Amazon, dengan lima rezim cahaya sekaligus: gelap total, 6 jam, 12 jam, 18 jam, dan 24 jam terang. Dua ratus larva berumur lima hari dibagi ke 20 akuarium satu liter, diberi nauplii Artemia empat kali sehari selama 15 hari.

Pertumbuhan, keseragaman ukuran, dan kelangsungan hidupnya tidak dipengaruhi fotoperiode sama sekali. Kesimpulan penulisnya lugas: untuk larva spesies ini sampai umur 20 hari, mengatur-atur fotoperiode tidak menguntungkan karena hanya menambah biaya, dan sebaiknya dipakai fotoperiode yang mendekati lingkungan alaminya.

Makalah itu juga mengumpulkan hasil dari spesies lain, dan gambarannya berantakan dengan cara yang jujur. Pada nila, tambaqui, dan beberapa ikan lain, fotoperiode tidak memengaruhi kelangsungan hidup. Pada dua spesies lain, larva yang dipelihara dalam gelap total hasilnya lebih buruk, yang dikaitkan dengan kesulitan menemukan makanan. Sebaliknya, pada lele Afrika, justru gelap total yang memberi kelangsungan hidup lebih baik.

Pola itu sebenarnya bisa ditebak dari kebiasaan hidup ikannya. Ikan yang aktif malam dan terbiasa bersembunyi tidak menanggapi cahaya dengan cara yang sama seperti ikan yang berburu dengan mata di siang hari. Contohnya ada di cara merawat ikan botia badut.

Jadi Angka Mana yang Kamu Pakai?

Kalau yang kamu cari satu angka untuk akuarium hias biasa, 12 jam adalah pilihan yang paling bisa dipertanggungjawabkan, dengan tiga alasan yang semuanya berasal dari bacaan di atas.

Pertama, 12 jam ada di golongan terbaik pada percobaan cupang, baik untuk frekuensi pemijahan maupun jumlah telurnya. Kedua, dia jauh dari kedua ujung yang terbukti bermasalah, yaitu gelap seharian di satu sisi dan menyala seharian di sisi lain. Ketiga, dia paling dekat dengan anjuran memakai fotoperiode yang mirip lingkungan alami, dan ikan hias air tawar yang kita pelihara sebagian besar berasal dari daerah tropis yang panjang harinya hampir tidak berubah sepanjang tahun.

Kalau alga melayang di airmu sedang parah, memangkas ke 8 jam tetap boleh dicoba. Percobaan cupang tadi menunjukkan 8 jam tidak merugikan ikannya, jadi biayanya kecil walaupun hasilnya belum tentu ada.

Yang sebaiknya tidak kamu lakukan cuma dua: membiarkan lampu menyala sepanjang hari, dan membiarkannya mati terus-menerus di ruangan yang memang gelap.

Satu hal yang perlu disebut jujur. Tidak ada satu pun percobaan di atas yang menguji apakah jadwal yang berubah-ubah lebih buruk daripada jadwal yang tetap. Semua percobaan itu memakai timer justru supaya jadwalnya persis, jadi pertanyaannya tidak pernah diuji. Memakai timer tetap masuk akal, tapi alasannya kerapian, bukan bukti.

Yang Bisa Kamu Lakukan Sekarang

  1. Tetapkan satu jadwal dan biarkan berjalan. Untuk akuarium hias biasa, 12 jam adalah titik awal yang punya dasar.
  2. Pastikan ada periode gelap yang benar-benar gelap. Lampu ruangan yang menyala semalaman membuat jadwal lampu akuariummu tidak berarti apa-apa.
  3. Jangan memperpanjang jam lampu dengan harapan ikan lebih cepat besar, kecuali kamu memang sedang membesarkan ikan dan tahu akibatnya pada beban filter.
  4. Kalau cupangmu sedang disiapkan untuk memijah, jauhi 20 jam ke atas. Itu bagian yang buktinya paling jelas.
  5. Kalau lumut menempel yang jadi masalah, cari penyebab lain dulu seperti nutrisi dan kepadatan ikan, bukan langsung memotong jam lampu.
  6. Ubah satu hal saja dalam satu waktu, dan catat tanggalnya. Mengubah jam lampu bersamaan dengan hal lain membuat kamu tidak pernah tahu mana yang bekerja, seperti alasan di akuarium baru.

Batas bacaan ini perlu disebut terang-terangan. Keempat percobaan di atas memakai wadah kecil, dari 1 liter sampai 2 liter untuk dua percobaan ikan hiasnya, dengan jenis dan umur ikan yang berbeda-beda. Percobaan lumutnya memakai bak luar ruang seribu liter berisi berudu, bukan akuarium, dan selisih panjang harinya hanya sekitar dua jam, jauh dari jarak antara 8 jam dan 24 jam. Tidak satu pun dari keempatnya dirancang untuk menjawab pertanyaan pemilik akuarium hias rumahan secara langsung. Arah temuannya layak dipakai, besaran angkanya tidak bisa dipindahkan begitu saja.

Penutup

Pertanyaan berapa jam lampu akuarium menyala ternyata punya jawaban yang lebih longgar daripada nada tulisan yang beredar. Di antara 8 dan 12 jam, bukti yang ada tidak memihak siapa pun dengan tegas. Yang punya bukti jelas justru kedua ujungnya, dan keduanya mudah dihindari.

Kalau kamu sudah terlanjur memakai angka tertentu dan ikanmu sehat, tidak ada alasan mendesak untuk menggantinya. Pengaturan lain seperti suhu air akuarium jauh lebih cepat terasa akibatnya. Informasi di halaman ini bersifat umum, bukan pengganti pemeriksaan oleh dokter hewan, sesuai halaman disclaimer.

Sumber: Effects of photoperiod on reproduction of Siamese fighting fish Betta splendens (Giannecchini, Massago dan Fernandes, Revista Brasileira de Zootecnia, 2012, akses terbuka) untuk rancangan 30 pasang cupang selama 150 hari, lima rezim cahaya, 500 lux, frekuensi pemijahan di 8, 12, dan 16 jam, jumlah telur per pemijahan di tiap rezim, volume telur yang lebih besar pada perlakuan berfekunditas rendah, serta bobot dan panjang yang tidak berbeda antarfotoperiode; Photoperiodic Modulation on Growth and Behaviour of the Giant Gourami, Trichogaster fasciata (Bano dan Serajuddin, Turkish Journal of Fisheries and Aquatic Sciences, 2018) untuk rancangan 90 hari dengan kontrol gelap total, bobot dan panjang akhir tiap kelompok, rasio konversi pakan, kelangsungan hidup 80 persen di kelompok gelap, serta catatan luka dan gerak renangnya; Influence of photoperiod on growth, uniformity, and survival of larvae of the Amazonian ornamental Heros severus (Veras dkk., Revista Brasileira de Zootecnia, 2016, akses terbuka lisensi CC BY) untuk lima fotoperiode pada larva severum yang tidak menghasilkan perbedaan apa pun, anjuran memakai fotoperiode mendekati lingkungan alami, dan rangkuman hasil pada spesies lain termasuk lele Afrika; Photoperiod effects in a freshwater community (Neptune dan Benard, Ecology and Evolution, 2023, akses terbuka lisensi CC BY) untuk 32 bak seribu liter, selisih panjang hari 2 jam 24 menit, tidak adanya pengaruh pada lumut menempel maupun alga melayang, rujukan ke dua penelitian lain yang senada, dan catatan tentang berudu yang memakan alga; serta FishBase untuk penyebaran Trichogaster fasciata di Asia Selatan dan nama bakunya. Tiga percobaan ikan di atas dikerjakan untuk keperluan budi daya dan penelitian, bukan untuk akuarium hias rumahan, dan angkanya dikutip apa adanya.

Link will be apear in 3 seconds.

Allell Menulis panduan praktis di Sumber Tips (TV satelit, receiver parabola, set top box), Kepo Indonesia, dan Mataikan. Artikel ditulis dari pengalaman memakai perangkatnya langsung, dengan ketentuan yang dicek ke sumber resmi. Tentang saya: https://www.sumbertips.com/p/about.html

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel