Arapaima: Ikan Raksasa yang Dilarang di Indonesia
| Foto: Bjoertvedt / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0 |
Mataikan.com – Arapaima adalah ikan yang membuat orang berhenti di depan akuarium raksasa: panjangnya bisa melebihi dua meter, sisiknya seperti zirah bertepi merah, dan ia naik ke permukaan untuk menghirup udara seperti makhluk purba.
Justru karena semenarik itu, satu hal tentang arapaima wajib diketahui setiap penghobi di Indonesia: ikan ini dilarang dimasukkan, dipelihara, dan diedarkan di sini. Bukan karena ia dilindungi — kebalikannya: karena di perairan kita ia berpotensi jadi bencana.
Artikel ini membahas seperti apa arapaima di habitat aslinya, kenapa Indonesia melarangnya, apa yang pernah terjadi saat ia dilepas ke sungai kita, dan apa yang harus dilakukan kalau kamu terlanjur memeliharanya.
Raksasa Air Tawar dari Amazon
Arapaima (Arapaima gigas) berasal dari sungai-sungai lembah Amazon di Amerika Selatan, dan termasuk ikan air tawar terbesar di dunia — umumnya dua meteran, dengan catatan individu yang jauh lebih besar lagi.
Keunikannya yang paling terkenal: arapaima wajib menghirup udara langsung dari permukaan. Insangnya saja tidak cukup; ia melengkapi napasnya dengan organ mirip paru-paru. Itu sebabnya di akuarium besar ia terlihat naik secara berkala — bukan atraksi, melainkan kebutuhan. Kemampuan ini pula yang membuatnya sanggup hidup di perairan yang miskin oksigen, tempat ikan lain menyerah.
Zirah Hidup yang Menahan Gigitan Piranha
Sisik arapaima bukan sekadar besar — ia salah satu bahan alami paling tangguh yang pernah dipelajari ilmuwan. Lapisan luarnya keras bermineral, lapisan dalamnya berserat lentur, dan kombinasi itu membuatnya mampu menahan gigitan piranha yang hidup di perairan yang sama. Para peneliti material bahkan menjadikannya rujukan untuk merancang pelindung buatan.
Tumbuhnya pun luar biasa cepat untuk ikan sebesar itu — dari seukuran jari ke ukuran manusia dewasa hanya dalam beberapa tahun. Kecepatan tumbuh inilah yang selalu mengejutkan pemelihara rumahan: akuarium yang tadinya terasa lapang berubah sempit dalam setahun-dua tahun.
Kenapa Indonesia Melarangnya
Larangan arapaima bukan soal ikan itu jahat — ia soal posisi. Di Amazon, arapaima punya sejarah panjang bersama mangsa dan pesaingnya. Di sungai Indonesia, ia pemangsa raksasa yang tidak punya musuh alami, dengan nafsu makan sepadan ukurannya, dan tahan pula di air berkualitas buruk berkat napas udaranya.
Lepaskan beberapa ekor ke sungai tropis kita, dan ikan-ikan lokal — termasuk jenis asli yang sudah terdesak — menghadapi pemangsa yang tidak pernah ada dalam sejarah evolusinya. Karena itulah arapaima masuk daftar ikan berbahaya yang dilarang masuk ke wilayah Indonesia: dilarang diimpor, dibudidayakan, diedarkan, maupun dilepasliarkan.
Ini kebalikan sempurna dari logika perlindungan: ada ikan yang dilarang diambil dari alam karena hampir punah — daftarnya pernah kami tulis di daftar ikan dilindungi di Indonesia — dan ada ikan yang dilarang masuk ke alam karena terlalu perkasa. Arapaima golongan kedua.
Saat Arapaima Muncul di Sungai Jawa
| Foto: Gant223 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0 |
Ancaman itu bukan teori. Pertengahan 2018, warga di sekitar Sungai Brantas, Jawa Timur, berturut-turut menangkap arapaima berukuran besar — ikan Amazon di jantung sungai Jawa. Belakangan diketahui ikan-ikan itu dilepas oleh pemelihara yang kewalahan menampung ukurannya.
Kejadian itu memperlihatkan pola yang selalu sama: arapaima dibeli saat masih kecil dan lucu, tumbuh lebih cepat dan lebih besar daripada perkiraan pemiliknya, lalu "dibebaskan" ke sungai sebagai jalan pintas yang terasa welas asih — padahal itu justru pelanggaran sekaligus ancaman ekologis paling nyata.
Kalau Terlanjur Memelihara
Jangan pernah melepasnya ke perairan umum. Itu satu-satunya larangan yang mutlak. Langkah yang benar: hubungi kantor karantina ikan (BKIPM) atau dinas perikanan setempat untuk penyerahan. Menyerahkan secara sukarela adalah jalan yang selama ini difasilitasi — jauh lebih baik daripada menyimpan diam-diam ikan yang kelak tidak tertampung.
Arapaima bukan satu-satunya: ada puluhan jenis ikan lain yang dilarang dipelihara dan diedarkan di Indonesia, sebagian bahkan masih dijual bebas karena penjualnya pun tidak tahu. Daftar lengkapnya beserta sanksinya kami bahas di ikan hias yang dilarang dipelihara di Indonesia.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kenapa dulu arapaima bisa beredar di Indonesia?
Ia masuk lewat perdagangan ikan hias sebelum aturannya dipertegas, dan sebagian beranak-pinak di kolam penghobi. Larangannya hari ini justru lahir dari pengalaman itu.
Apakah arapaima berbahaya bagi manusia?
Ia bukan pemburu manusia, tapi tubuh sebesar itu dengan kekuatan sepadan bukan hewan peliharaan rumahan. Bahaya terbesarnya bukan untuk pemiliknya — melainkan untuk sungai tempat ia dilepas.
Di negara asalnya, arapaima dimakan?
Ya — di Amazon ia justru ikan konsumsi penting yang kini dikelola ketat karena sempat menurun akibat penangkapan berlebihan. Ironinya lengkap: di rumahnya ia dijaga agar tidak habis, di sini ia dijaga agar tidak menyebar.
Link will be apear in 3 seconds.