Upwelling: Kenapa Ikan di Waduk Mati Massal

Deretan keramba jaring apung berbingkai pelampung biru membentang di permukaan danau yang tenang dengan rumah jaga di ujungnya
Foto: Sophia Guevara / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Mataikan.com – Pertengahan September 2026, petani keramba jaring apung (KJA) di Waduk Jangari, Kecamatan Mande, Cianjur, kembali menghadapi pemandangan yang mereka takutkan setiap tahun: puluhan ton ikan mati mendadak, mengambang di permukaan dalam hitungan hari.

Muhyi, petani ikan berusia 37 tahun, menyebut kematian itu sudah berlangsung sejak sepekan sebelumnya, terutama di keramba Blok Salam. Dugaannya satu kata yang akrab di telinga petani waduk: upwelling.

Artikel ini membahas apa sebenarnya upwelling di waduk, kenapa ia bisa membunuh ikan sebanyak itu dalam waktu singkat, tanda-tanda yang bisa kamu kenali, dan kenapa upwelling di laut justru dianggap berkah.

Waduk yang Airnya Berlapis

Air waduk yang tampak tenang sebenarnya tidak seragam. Pada musim kemarau, permukaan air dipanaskan matahari sehingga lapisan atasnya hangat dan kaya oksigen. Lapisan dasarnya lebih dingin, jarang tercampur, dan miskin oksigen.

Di waduk yang padat keramba, lapisan dasar itu juga menjadi tempat mengendapnya sisa pakan dan kotoran ikan selama berbulan-bulan. Endapan tersebut membusuk, menghabiskan oksigen yang tersisa, dan menghasilkan gas serta senyawa beracun bagi ikan.

Saat Lapisan Itu Terbalik

Upwelling terjadi ketika air dari lapisan dasar naik ke permukaan. Pemicunya umumnya perubahan cuaca yang mendadak: angin kencang, suhu permukaan yang turun tiba-tiba, atau hujan pertama setelah kemarau panjang. Lapisan air yang tadinya terpisah bercampur, dan air dasar yang miskin oksigen serta membawa sisa pakan yang membusuk menyebar ke permukaan.

Ikan liar masih bisa berenang menjauh. Ikan di dalam keramba tidak bisa. Ribuan ekor yang terkurung di jaring kehabisan napas bersamaan — itulah sebabnya kematian akibat upwelling selalu datang dalam jumlah ton, bukan ekor.

Soal oksigen terlarut ini sebenarnya berlaku juga di akuarium rumahan: ikan yang kepadatannya berlebihan di air tanpa sirkulasi akan megap-megap dengan cara yang sama. Prinsipnya pernah kami bahas di ikan hias yang bisa hidup tanpa aerator.

Jangari Bukan Sekali Ini

Pemandangan Waduk Jatiluhur dari ketinggian, gugusan keramba jaring apung tampak sebagai titik gelap di permukaan air, dengan sawah dan perbukitan di latar depan
Foto: Ocyid / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Pada Oktober 2021, sekitar 200 ton ikan mati dalam beberapa hari di Waduk Jangari, melibatkan lebih dari seratus unit keramba dengan kerugian miliaran rupiah. Kepala UPTD Jangari saat itu, Budi Prayatna, mengaitkannya dengan air kotor dari hulu yang masuk saat curah hujan tinggi, di tengah fenomena upwelling. Waduk lain yang padat keramba, seperti Waduk Cengklik di Boyolali, juga pernah mengalami kematian ikan massal yang dikaitkan dengan upwelling.

Polanya berulang karena kondisinya berulang: keramba yang padat, pakan yang menumpuk di dasar, dan pergantian musim yang datang setiap tahun.

Ikan Mana yang Paling Rentan

Jenis yang paling banyak dibudidayakan di keramba waduk Jawa Barat adalah ikan mas dan nila. Keduanya sama-sama terancam saat upwelling, tapi ikan mas umumnya lebih cepat tumbang ketika oksigen anjlok, sementara nila dikenal lebih tahan terhadap air yang miskin oksigen. Ketahanan itu tetap ada batasnya: bila air beracun naik dalam jumlah besar, nila pun ikut mati.

Ukuran juga berpengaruh. Ikan yang sudah besar dan siap panen membutuhkan oksigen lebih banyak, sehingga kerugiannya berlipat — yang mati justru ikan yang paling mahal, tepat sebelum dipanen.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

  • Ikan megap-megap di permukaan, terutama pagi hari saat oksigen di air paling rendah.
  • Air berubah warna menjadi lebih keruh atau kehitaman.
  • Bau busuk menyengat dari air, seperti telur busuk.
  • Nafsu makan ikan turun mendadak dan pakan tidak habis.
  • Cuaca berubah drastis: angin kencang atau hujan pertama setelah kemarau panjang.

Yang Bisa Dilakukan Petani

Langkah Alasannya
Kurangi padat tebar menjelang pergantian musimIkan yang lebih sedikit butuh oksigen lebih sedikit saat kadar oksigen anjlok
Panen lebih cepat saat musim berubahImbauan UPTD Jangari: memperkecil ikan yang terancam saat risiko tertinggi
Beri pakan secukupnyaSisa pakan yang mengendap adalah bahan bakar lapisan dasar yang beracun
Pantau perilaku ikan setiap pagiIkan yang megap-megap adalah peringatan paling awal

Upwelling di Laut: Justru Berkah

Menariknya, istilah yang sama punya arti berlawanan di laut. Di laut lepas, air dalam yang naik membawa nutrien yang menyuburkan plankton — dan plankton yang melimpah menarik ikan dalam jumlah besar. Selat Bali adalah contohnya: perairan yang dikenal subur ini menjadi rumah ikan lemuru yang dulu mengisi hampir semua kaleng sarden kita, seperti yang kami tulis di ikan lemuru, asal sarden kalengan.

Bedanya ada pada kondisi air dasarnya. Di laut terbuka, air dalam kaya nutrien dan tidak menampung tumpukan pakan yang membusuk. Di waduk berkeramba padat, yang naik justru air yang sudah kehabisan oksigen.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah ikan yang mati karena upwelling boleh dimakan?
Sebaiknya jangan. Ikan yang sudah mati mengambang tidak jelas sejak kapan matinya dan cepat membusuk. Kalau kamu melihat ikan murah yang asalnya dari kejadian ikan mati massal, lebih aman dilewatkan.

Apakah upwelling bisa diramalkan?
Tidak bisa dipastikan harinya, tapi musimnya bisa diwaspadai. Pergantian dari kemarau ke hujan, angin kencang, dan penurunan suhu mendadak adalah saat risikonya paling tinggi.

Kenapa kejadiannya sering di waduk, bukan di sungai?
Air sungai terus mengalir dan tercampur, sehingga jarang membentuk lapisan dasar yang miskin oksigen. Waduk yang airnya tenang dan padat keramba lebih mudah mengalaminya.

Link will be apear in 3 seconds.

Allell Menulis panduan praktis di Sumber Tips (TV satelit, receiver parabola, set top box), Kepo Indonesia, dan Mataikan. Artikel ditulis dari pengalaman memakai perangkatnya langsung, dengan ketentuan yang dicek ke sumber resmi. Tentang saya: https://www.sumbertips.com/p/about.html

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel