Ikan Berubah Betina: Alarm dari Kali Surabaya
| Foto: NFarras / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0 |
Mataikan.com – Senin, 14 September 2026, peneliti Ecoton menebar jala di Kali Surabaya dan mendapati sesuatu yang janggal: 80 persen ikan yang tertangkap berkelamin betina. Di sungai yang sehat, perbandingannya mestinya mendekati separuh-separuh.
Ini bukan kebetulan satu kali jala. Lima belas tahun lalu, temuan yang nyaris sama sudah tercatat di sungai yang sama — dan penyebabnya hampir pasti datang dari tempat yang jarang kamu curigai: kamar mandi, mesin cuci, dan saluran pembuangan rumah kita sendiri.
Artikel ini membahas kenapa ikan di sungai tercemar bisa "berubah" jadi betina, zat apa yang memicunya, dan kenapa hal ini lebih serius daripada sekadar air yang keruh.
Temuan di Kali Surabaya
Kali Surabaya adalah anak Sungai Brantas yang mengalir menembus kawasan industri dan permukiman sebelum masuk ke kota. Menurut Prigi Arisandi, peneliti Yayasan Lahan Basah (Ecoton), dominasi betina yang mereka temukan adalah tanda kuat feminisasi — ikan jantan yang perkembangan kelaminnya terganggu oleh zat kimia di air.
Pemicunya, kata Ecoton, gabungan dari banyak sumber: limbah cair industri, limbah rumah tangga yang dibuang tanpa diolah, detergen, mikroplastik, hingga sampah popok. Di mata ikan, sebagian cairan limbah itu terbaca seperti hormon estrogen.
Bukan yang Pertama: Catatan 2011
Pada Juli–Agustus 2011, Ecoton bersama Perum Jasa Tirta I dan tim Universitas Airlangga menyisir Sungai Brantas dari Kediri hingga Sidoarjo dan Gresik. Hasilnya, seperti dilaporkan Kompas saat itu:
| Pengamatan | 2011 | 2026 |
|---|---|---|
| Ikan betina di Kali Surabaya | 84 persen (337 dari 410 ekor) | 80 persen |
| Jenis yang diamati | Bader putih, bader merah, rengkik, keting, jendil | Ikan hasil jala di Kali Surabaya |
| Dugaan penyebab | Polutan estrogenik: detergen, sabun, limbah pertanian, urine | Limbah industri dan domestik, detergen, mikroplastik, popok |
Artinya, dalam lima belas tahun angkanya nyaris tidak bergerak. Masalahnya tidak hilang — ia menetap. Nama-nama ikan di tabel itu pun bukan ikan asing: bader, keting, dan rengkik adalah ikan sungai yang dulu akrab dengan pemancing dan warga di sepanjang Brantas.
Kenapa Ikan Bisa Jadi Betina
| Foto: Wibowo Djatmiko ( Wie146 ) / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0 |
Pada banyak jenis ikan, kelamin tidak sepenuhnya "terkunci" sejak telur. Perkembangannya dipengaruhi hormon, terutama di masa awal hidup. Di sinilah masalahnya: sejumlah zat buatan manusia punya bentuk yang cukup mirip dengan estrogen sehingga tubuh ikan salah membacanya. Kelompok zat ini disebut pengganggu hormon atau endocrine disrupting chemicals (EDC).
Paparan terus-menerus membuat ikan jantan tumbuh dengan ciri betina, sebagian menjadi interseks, dan rasio kelamin populasi pun timpang. Sumber EDC yang umum di sungai perkotaan antara lain:
- Hormon dari urine — baik hormon alami maupun sisa obat hormonal, yang ikut terbuang lewat limbah domestik yang tidak diolah.
- Sisa detergen dan sabun — beberapa senyawa turunannya bersifat estrogenik setelah terurai di air.
- Plastik dan mikroplastik — sebagian bahan tambahan plastik dikenal meniru kerja hormon.
- Limbah industri dan pertanian — pestisida dan bahan kimia industri tertentu berperilaku serupa.
Yang membuatnya licik: zat-zat ini bekerja pada kadar yang sangat kecil. Air bisa tampak jernih dan tidak berbau, tapi tetap membawa cukup "sinyal hormon" untuk mengacaukan perkembangan ikan.
Kenapa Ini Lebih Serius dari Air Keruh
Sungai yang kotor biasanya kita nilai dari warna dan baunya. Feminisasi ikan menunjukkan ancaman yang tidak terlihat mata: populasi yang pelan-pelan kehilangan kemampuan berkembang biak. Kalau jantan terus berkurang, generasi berikutnya menipis — dan jenis yang tidak setangguh ikan sapu-sapu yang justru berjaya di sungai tercemar perlahan tersingkir.
Ada sisi manusianya juga. Kali Surabaya adalah salah satu sumber air baku bagi warga Surabaya. Zat yang cukup kuat untuk mengubah perkembangan kelamin ikan tentu bukan zat yang ingin kita biarkan menumpuk di sumber air minum.
Sungai-sungai kita sebenarnya rumah bagi banyak ikan asli yang tidak ditemukan di tempat lain — sebagian di antaranya pernah kami ulas di ikan hias air tawar asli Indonesia. Kualitas air menentukan apakah mereka masih punya masa depan.
Yang Bisa Kamu Lakukan
Pembenahan utamanya ada di tangan pemerintah dan industri: pengolahan limbah domestik yang layak, pengawasan pembuangan limbah pabrik, dan pemantauan kadar hormon di sungai. Tapi di rumah, ada langkah kecil yang tetap berarti:
- Pakai detergen secukupnya. Busa yang melimpah bukan tanda cucian lebih bersih.
- Jangan buang popok dan plastik ke sungai — di banyak kota, keduanya masih jadi pemandangan sehari-hari di aliran air.
- Jangan membuang obat ke kloset atau saluran air. Sisa obat sebaiknya dibuang bersama sampah padat dalam wadah tertutup, atau dikembalikan ke apotek bila tersedia layanannya.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah ada ikan yang memang berganti kelamin secara alami?
Ada. Kerapu, misalnya, umumnya lahir betina lalu sebagian berubah menjadi jantan. Ikan badut kebalikannya. Bedanya, pergantian alami itu diatur siklus hidup dan kondisi kelompok, sedangkan feminisasi di sungai tercemar dipaksa oleh zat kimia dari luar.
Apakah ikan dari sungai tercemar aman dimakan?
Sebaiknya kamu hindari. Ikan yang hidup di air tercemar bisa menyimpan zat berbahaya di tubuhnya, dan hal itu tidak bisa dikenali dari rupa atau baunya.
Apakah jumlah ikan betina yang banyak berarti populasinya sehat?
Tidak. Populasi sehat butuh jantan dan betina yang seimbang. Betina yang melimpah tanpa cukup jantan justru tanda reproduksi yang terganggu.
Link will be apear in 3 seconds.