Beda Ikan Nila dan Mujair: Ciri, Rasa, dan Asal-Usulnya

Seekor ikan nila berwarna kehijauan berenang di kolam berair cokelat keruh, dilihat dari atas
Foto: Donald Hobern / Wikimedia Commons, CC BY 2.0

Cara tercepat membedakan nila dan mujair adalah melihat sirip ekornya: nila punya garis-garis vertikal yang jelas, sedangkan sirip ekor mujair polos atau hanya berbintik samar. Badan nila lebih tinggi dan berisi, mujair lebih ramping dan pipih. Keduanya berasal dari Afrika; nila tumbuh lebih cepat, sementara daging mujair lebih lembut dan gurih.

Dua ikan ini dipajang bersebelahan di hampir semua lapak ikan air tawar, bentuknya mirip, dan harganya beda. Yang satu nila, yang satu mujair. Banyak pembeli menyerah membedakan dan percaya saja pada label.

Padahal ada satu penanda yang bisa dilihat dalam dua detik, bahkan saat ikannya sudah mati di atas nampan. Sisanya — asal-usul, rasa, dan alasan kenapa nila lebih sering dibudidayakan — menjelaskan kenapa keduanya sering tertukar sejak awal.

Cara Tercepat Membedakannya

Lihat sirip ekornya. Nila punya garis-garis vertikal yang jelas memotong sirip ekor, seperti deretan pita tipis. Mujair tidak — sirip ekornya polos atau hanya berbintik samar.

Penanda itu disebut juga oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur, yang menambahkan pembeda kedua: bentuk badan. Mujair cenderung lebih ramping dan pipih, sedangkan nila lebih tinggi dan berisi. Di lapak yang sama, nila biasanya terlihat "lebih tebal" dari samping.

Beda Lengkapnya

CiriNilaMujair
Nama ilmiahOreochromis niloticusOreochromis mossambicus
Sirip ekorgaris vertikal jelaspolos / bintik samar
Bentuk badantinggi, berisiramping, pipih
Ukuran pasarlebih besar, sering di atas 500 gumumnya lebih kecil
Warnaabu kehijauan, kadang merah (nila merah)abu gelap; jantan dewasa menghitam
Pertumbuhancepatlebih lambat

Kalau ikan yang kamu pegang beratnya jauh di atas setengah kilogram, kemungkinan besar itu nila. Mujair jarang dibudidayakan sampai ukuran itu karena pertumbuhannya lebih lambat dan ia lebih cepat berbiak daripada membesar.

Asal-Usul: Dua Nama, Dua Cerita

Seekor ikan mujair keperakan berenang di antara kawanan mujair lain di dalam akuarium
Foto: Greg Hume / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Keduanya bukan ikan asli Indonesia, dan keduanya berasal dari Afrika.

Nila berasal dari perairan Sungai Nil — dari situlah nama ilmiahnya, niloticus, dan nama Indonesianya diambil. Ia didatangkan ke Indonesia untuk budidaya karena tumbuh cepat dan dagingnya tebal.

Mujair punya cerita yang lebih lokal. Namanya diambil dari nama orang: Mbah Moedjair, warga Blitar yang menemukan ikan ini di muara sungai di pesisir selatan Jawa pada akhir 1930-an, lalu berhasil memeliharanya di kolam air tawar. Ikan itu kemudian menyebar dengan namanya.

Jadi ketika orang menyebut mujair "ikan kampung" dan nila "ikan budidaya", itu tidak sepenuhnya keliru dari sisi sejarah — meski keduanya sama-sama pendatang.

Status pendatang itu bukan hal sepele. Nila dan mujair kini ditemukan hampir di semua danau, waduk, dan sungai besar Indonesia, dan di beberapa perairan keduanya mendesak ikan asli yang lebih lambat berkembang biak. Ikan air tawar asli Indonesia sendiri jumlahnya banyak dan sebagian justru lebih dikenal di akuarium luar negeri daripada di kampung halamannya — beberapa di antaranya kami kumpulkan di 8 ikan hias air tawar asli Indonesia dan asalnya.

Karena itu satu aturan lama tetap berlaku: jangan melepas ikan peliharaan, termasuk nila atau mujair sisa kolam, ke sungai atau danau. Keduanya berbiak cepat dan sulit ditarik kembali begitu mapan.

Mana yang Lebih Enak?

Ini bagian yang paling subjektif, tapi ada polanya. Mujair dagingnya lebih lembut dan rasanya lebih gurih, dengan duri halus yang sedikit lebih banyak. Nila dagingnya lebih tebal, lebih padat, dan lebih mudah difillet — karena itu ia yang biasa dipakai untuk fillet nila di restoran.

Soal bau lumpur, keduanya sama-sama bisa berbau, dan itu bukan soal jenis ikannya melainkan soal air tempat ia dibesarkan. Ikan dari kolam air tenang berlumpur cenderung berbau tanah; ikan dari air mengalir tidak. Merendam dengan garam, jeruk nipis, atau asam jawa sebelum dimasak menyelesaikan sebagian besar masalah itu.

Kenapa Nila Mendominasi Kolam Budidaya

Tiga alasan praktis: tumbuh lebih cepat, konversi pakan lebih efisien, dan ukuran panennya lebih seragam. Bagi pembudidaya, tiga hal itu langsung berarti panen lebih cepat dengan pakan lebih sedikit.

Mujair unggul di sisi lain: lebih tahan air buruk dan gampang sekali berbiak. Justru karena itu ia sering jadi masalah — di kolam campuran, populasinya meledak, saling berebut pakan, dan semua ikan berakhir kerdil.

Satu hal yang perlu diingat pemilik kolam: ikan air tawar yang dipelihara di kolam terbuka ikut terpengaruh kondisi air saat cuaca berubah. Kematian massal di kolam dan waduk paling sering bukan karena penyakit, melainkan karena oksigen anjlok. Mekanismenya kami bahas di upwelling: kenapa ikan di waduk mati massal.

Memilih Nila dan Mujair Segar

  • Mata bening dan menonjol, bukan cekung keruh.
  • Insang merah segar. Insang cokelat pucat tanda ikan sudah lama.
  • Daging kembali saat ditekan, tidak meninggalkan cekungan.
  • Sisik menempel kuat dan mengilap.

Kalau ikan dijual hidup, pilih yang berenang tenang di dasar, bukan yang megap-megap di permukaan. Ikan yang sudah lama kekurangan oksigen dagingnya lebih cepat lembek setelah dipotong.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa beda paling mudah antara nila dan mujair?
Garis vertikal di sirip ekor. Nila punya, mujair tidak.

Apakah nila merah jenis ikan yang berbeda?
Bukan jenis lain, melainkan nila hasil pemuliaan warna. Ciri sirip ekornya tetap sama.

Mujair dan nila bisa kawin silang?
Bisa, karena keduanya satu genus, dan persilangan semacam itu memang pernah diteliti. Di kolam rumahan, percampuran seperti ini membuat asal-usul ikan sulit dilacak dan ukurannya tidak seragam.

Ikan mana yang lebih murah?
Umumnya mujair, karena ukurannya lebih kecil dan pasokannya sering dari tangkapan kolam atau perairan umum, bukan budidaya terencana.

Link will be apear in 3 seconds.

Allell Menulis panduan praktis di Sumber Tips (TV satelit, receiver parabola, set top box), Kepo Indonesia, dan Mataikan. Artikel ditulis dari pengalaman memakai perangkatnya langsung, dengan ketentuan yang dicek ke sumber resmi. Tentang saya: https://www.sumbertips.com/p/about.html

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel