Thursday, 16 November 2017

Yang Akan Janggal dari Tagline Profesor Nurdin Abdullah



Dua hari terakhir, timeline medsos saya diisi polemik tagline The Professor. Polemik ini dipicu orasi pengukuhan guru besar Nurdin Abdullah yang baru terlaksana Rabu, 15 November 2017. Namun tagline The Professor sudah digunakan sebagai bahan kampanye jauh hari sebelumnya. Salah ? Tidak.

Mula-Mula
Anggap saja begini, kalian menikah dan mendapatkan buku nikah di bulan Januari. Tapi karena satu dan lain hal, resepsi pernikahan terlaksana di bulan Maret. Dalam kurun waktu dua bulan itu, apakah kalian bukan suami-istri yang sah ? tentu saja SAH.

Ilustrasi serupa dialami Nurdin Abdullah. Konon, ia telah menerima SK pengangkatan guru besar sejak Desember 2008. Namun karena kesibukan sebagai Bupati Bantaeng, orasi pengukuhannya baru terlaksana November 2017. Lalu apa yang salah dari tagline The Professor ?

Profesor bukanlah gelar akademik, melainkan jabatan fungsional. Hal ini diatur dalam PP No.60 Tahun 1999, UU No.14 tahun 2005 dan PP No.41 Tahun 2009. Gelar akademik boleh dipakai terus menerus, bahkan jika seseorang sudah meninggal.

Sedangkan profesor, sebagai jabatan fungsional, hanya bisa dipakai selama sesorang masih berstatus dosen aktif/PNS. Saat ini Nurdin Abdullah masih berstatus dosen aktif/PNS. Ia tercatat sebagai guru besar/profesor Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin dengan spesifikasi keahlian Perencanaan Rehabilitasi Lahan. Lalu apa yang salah dari tagline The Professor ?

Profesor (?)
Pendaftaran pasangan calon pilkada serentak gelombang kedua akan dimulai 01 Januari 2018. Jika merujuk UU No.5 Tahun 2014, maka sebelum tanggal tersebut Nurdin Abdullah sudah mengajukan pengunduran diri sebagai dosen.

Ini juga berarti, pertanggal 01 Januari 2018, status profesor yang disandang Nurdin Abdullah berakhir. Sampa di titik ini, muncul pertanyaan brengsek "Akankah tagline The Professor bernasib sama dengan Tanribali Lamo ?". Jawabannya mungkin iya, mungkin tidak.

Ada sedikit kemungkinan status dan tagline profesor bisa bertahan. Skenarionya, setelah mengajukan pensiun dini, Nurdin Abdullah diangkat menjadi profesor emeritus. Tapi mengingat jalur birokrasi yang panjang dan berliku untuk pengajuannya, probabilitas skenario ini menjadi sekecil upil.

Akan lebih mudah, jika skenarionya disusun seperti status profesor yang diperoleh Rhoma Irama. Muncul kampus "ajaib" dari luar negeri sana yang memberi Nurdin Abdullah status profesor kehormatan. Hal ini terdengar lebih realistis.

Jika dua skenario ini gagal berjalan, maka penggunaan sebutan guru besar/profesor, baik dalam baliho maupun kertas suara, adalah kekeliruan. Akhirnya, kita kembali bertanya, "Akankah tagline The Professor bernasib sama dengan Tanribali Lamo ?".
Disqus Comments