Ziarah ke ASEAN Literary Festival (ALF) 2015

Tags

ASEAN Literary Festival 2015

Saya membatalkan pergi ke Taman Ismail Marzuki di hari terakhir pelaksanaan Asean Literary Festival (ALF) 2015. Alasannya simpel, saat tak memiliki uang sepersen pun, pasti menyakitkan mengunjungi hari terakhir sebuah festival sastra yang dipenuhi diskon buku. Saya sudah cukup tersakiti selama hidup, tidak lagi.

ALF digagas Muara Foundation, ini perhelatan yang kedua sejak dimulai 2014 lalu. ALF 2015 mengangkat tema "Questions of Conscience", yang bisa berarti dorongan jiwa, bisikan hati dan sejenisnya. Melihat turunan tema dalam item-item kegiatan, saya merasakan spirit Lekra dalam nafas baru, yang menempatkan sastra sebagai counter discourses, kritik sosial dan gerak perubahan.
......

Delapan hari pelaksaanaan ALF 2015, saya cuma sempat datang dua hari. Jum'at dan Sabtu (20-21 Maret 2015). Di hari Jum'at, saya datang lebih pagi agar tidak ketinggalan sesi Workshop; write for freedom part 1 yang dipandu Martin Aleida. Dia salah satu penulis favorit saya. Kalian tau novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck ? Itu bukan karyanya. Martin Aleida dikenal lewat novel-novel bertemakan POGROM '65 seperti Leontin Dewangga dan Mati Baik-Baik Kawan.

Martin mengawali sesi workshop dengan menceritakan kembali kisah yang dialaminya puluhan tahun lalu. Dengan antusias Martin mengingatkan, menulis bukan perkara dendam. Menulis adalah upaya merekam fakta. Upaya kritis menyikapi realitas dan keberanian membebaskan hidup dari ketakutan-ketakutan yang ada.

Sesi Martin berlangsung 90 menit. Setelahnya masih banyak sesi lain hingga jam 10 malam. Mustahil bisa mengikuti semua kegiatan sepanjang hari karena di satu waktu terdapat dua sesi yang berlangsung serentak. Seperti tadi, pada saat yang sama dengan workshop Martin, di bagian lain TIM juga berlangsung workshop; dramatic reading part 1 oleh Jose Rizal.
.....

Semua sesi menampilkan hal-hal keren dan menarik. Salah satu yang terbaik yaitu Community Session; The Voice of Difable People. Sesi diskusi ini menghadirkan Signmark dan Kartunet sebagai narasumber. Mereka adalah penyandang disabilitas, Signmark; seorang penyayi hiphop tuna rungu dan Kartunet; komunitas penulis tuna netra. Gokil. 

Signmark dan Kartunet membuka mata banyak orang, bahwa selama ini masih banyak suara-suara yang tidak terdengar. Lewat karya, mereka menunjukkan sastra dan produk kebudayaan lainnya adalah milik setiap orang. Siapapun dan bagaimanapun kondisinya.
.....

Di sela-sela ALF 2015, saya juga sempat bertemu dan ngobrol dengan Khrisna Pabichara, pengarang novel Gadis Pakarena. Sangat menyenangkan bertemu sesama orang Makassar di perantauan. Sabtu malam, sebelum pulang, saya menepi di selasar TIM menyimak Saut Situmorang membacakan puisi Love Song of Saut Speedy Gonzales. Puisinya lucu dan menyentil;

Love is real like a cruise missile launched from an American USS-Imperialism ...
Love is sexy and lovely like a multicoloured used condom recycled to the 3rd world countries ...
Love is an Indonesian clove cigarette you smoke during a Mozart concert ...
Love is high culture like a backpacker running out of toilet paper in the jungle of Indonesia ...

Overall, saya sangat menikmati ALF 2015. Salut untuk mba Okky Madasari selaku Program director yang mengkonsep acara ini dengan apik. Bayangkan betapa ribetnya jalani double burden; mba Okky mondar-mandir mengurusi kegiatan sambil dorong-dorong kereta bayi. Semoga tahun depan masih bisa hadir di ALF 2016.

Artikel Terkait

Tuliskan apa saja, pokoknya menulis ! View More