Suatu Hari Bersama Rico dan Gaby di Selayar

Ghamal Bersama Rico dan Gaby © Ghamal Wahab / Mata Ikan

Menemani bule ke Selayar adalah berkah sekaligus musibah. Berkahnya saya digaji untuk pulang kampung. Musibahnya saya bakal keseringan mendapat pertanyaan mengerikan "Sudah sarjana ? kok belum sarjana ? kapan nikah ? nikah sama apa ? bla bla bla ?" Terkutuklah mereka yang menanyakan hal-hal tersebut. Saya berdoa mereka terlahir sebagai bulu babi di kehidupan berikutnya. 

Hari sudah mulai gelap ketika kami tiba di Hotel Berlian, hotel tua di salah satu sudut perempatan Jl. Sudirman, Benteng, Selayar. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya percaya bule punya selera hotel yang berkorelasi negatif dengan selera turis domestik. Saya merekomendasikan hotel ini ke Rico dan Gaby. Ternyata benar mereka suka. Gaby malah sempat bilang "It's cool, the tiles reminds me to the church where we were married".

Keesokan paginya, saya mengantar Rico dan Gaby ke Tinabo Dive Centre (TDC). Di tempat ini kita bisa menemukan semua kebutuhan yang diperlukan untuk menikmati keindahan Selayar. Mulai dari alat selam, informasi trip, hingga jasa tour guide. Rico dan Gaby menyewa sebuah scooter Yamaha. Wajib Yamaha, helmnya pun wajib merek yang sama.

Konon, sejak Valentino Rossi hijrah ke Yamaha 2003 lalu, hampir semua orang di Brindisi (kota pesisir di bagian tenggara Itali) menjadi fans garis keras pabrikan motor asal jepang tersebut. Saking fanatiknya bahkan jika suatu hari nanti Yamaha memproduksi celana dalam, semua orang pasti akan berbondong-bondong membelinya. Sssaaadddiiisss.

Kak Evi, penunggu TDC, dan teman saya, Hikma, sempat menawarkan paket diving Pulau Tinabo ke Rico dan Gaby. Saya juga menawarkan beberapa spot pantai tak berpenghuni, dimana mereka bisa rebahan di atas pasir putih. Sekedar menikmati suara gemercik ombak dan sapuan angin sambil memandangi air laut yang biru jernih. Wew malah saya yang ngiler. Rico dan Gaby cuma senyam-senyum terus bilang "No thanks, we had other plans to enjoy this city".

Mereka ingin menjelajahi pelosok Selayar berdua saja. Saya diminta menunggu di rumah. Pura-pura saya tanya "Is it okay ?", Rico jawab "Yes, we'll contact you later". Ini berkah, lumayan bisa santai di rumah. Makan gaji buta. Saya tidak begitu khawatir mereka berkeliaran berdua. Selayar termasuk daerah dengan tingkat kriminalitas terendah di Indonesia.

Rico dan Gaby Bersama Warga Dusun Dodaiya © Ghamal Wahab / Mata Ikan

Lima jam berlalu... Saya mulai khawatir. Tidak ada kabar dari Rico dan Gaby. Saya membayangkan bagaimana kalau saja mereka tersesat. Kehabisan bensin di wilayah yang jauh dari pemukiman warga. No signal lalu terjadi penculikan dan hal-hal mengerikan seperti dalam film Wolf Creek. SMS Rico membuyarkan khayalan absurd tadi. "Come here at dusun dodaiya, it's an amazing village", isi pesannya. Syukurlah, ternyata mereka baik-baik saja.

Ini kali pertama saya ke dusun Dodaiya. Parahnya yang membuat saya mengunjungi tempat ini adalah sepasang bule Itali. Fak, sepanjang perjalanan saya terus bertanya dalam hati, kenapa banyak orang, termasuk saya sendiri, sibuk merencanakan liburan ke luar negeri sedangkan belum sebagian besar wilayah kampung sendiri sudah kita kunjungi. It's ironic.

Tiba di jalan masuk dusun, saya mendapati motor yang dipakai Rico dan Gaby terparkir di pinggir kebun warga. Kondisi ban depan dan belakang kempes, mungkin robek. Saya dan Hikma teriak-teriak mencari mereka. Ternyata dua bule ini asyik nongkrong bersama warga. Entah apa yang mereka bicarakan.

Rico dan Gaby kelihatan sangat senang. Mereka terus tersenyum dan mondar mandir memotret aktivitas warga. "Why both of you so happy ?" saya penasaran pada hal-hal yang membuat mereka tertarik. "They're still gracious even though to strangers" kata Rico sambil menunjuk dua orang warga yang baru saja membantu kami memperbaiki ban motor.

Gaby ikut membantu ibu-ibu memasukkan kopra ke dalam karung. Rico sibuk mengamati Hikma dan Pak Udin berbincang dalam bahasa Selayar. Dia berusaha keras mengerti arah pembicaraan. Tapi sepertinya tidak berhasil. "What do they talk about ?" tanya Rico. "They're going to take fresh coconut for you"

Menikmati Kelapa Muda Selayar © Ghamal Wahab / Mata Ikan

Rico bercerita bahwa dia dan Gaby senang bisa merasakan kehidupan desa pesisir yang bersahabat. Orang-orang saling membantu sesama tanpa berharap pamrih. Mereka menikmati setiap senyum tulus yang keluar dari wajah-wajah keras warga Dodaiya. Mereka senang dengan suasana desa yang alami. Tanpa polusi. Tanpa kemacetan dan kebisingan. 

Yah, di tengah rutinitas kehidupan kota-kota besar yang monoton dan cenderung individual, kita membutuhkan liburan sederhana seperti ini. Untuk melihat dan belajar kembali bagaimana harusnya hidup dijalani dan dinikmati.

Thanks Rico and Gaby for coming here. Wait for me in Italy !

Artikel Terkait

Tuliskan apa saja, pokoknya menulis ! View More