Mereka Yang Dituduh Perusuh Makassar

Aksi Demonstrasi Mahasiswa Makassar © Maskusdiono / Kompasiana

Di Makassar, hampir setiap hari tampak konvoi pemuda perusuh menebar amarah meneror penguasa. Mereka dihujat dan tivi-tivi tidak pernah luput meliputnya sebagai anomali. Di Jakarta sana, tepat di jantung kekuasaan Republik, hampir setiap hari tampak mobilisasi pemuda mengisi gerai-gerai hiburan dan memberi tepuk tangan di tivi-tivi. Mereka menjadi prototype pemuda baik-baik.
.....

Sejarah rusuh pemuda Makassar telah dimulai ratusan tahun lampau. Dari rusuh perlawanan Sultan Hasanuddin, Karaeng Galesong, dan Ranggong Dg. Romo di era invasi kolonial. Dari pemberontakan APRIS Andi Azis, gerakan DI/TII Qahar Muzakkar, hingga rusuh mahasiswa saat AMARAH dan 9 Desember tempo hari. Kebengalan mereka selalu mengusik zona nyaman penguasa.

Di Makassar, sperma perlawanan dan ovum intelektualitas pemuda tumbuh sehat dalam rahim kampus-kampus. Ada saat mereka saling melempar argumen; menganalisis modal capital Negara. Mengkaji Tuhan dan tujuan penciptaan makhluk. Membahas makna iklan axe seri apollo. Memprediksi skor pertandingan sepakbola dengan pendekatan ‘body without organs’ Deleuze-Guatari. Hingga memperbincangkan bahasan yang paling rumit; tentang siapa yang lebih layak membuat kopi dan pergi ke warung membeli rokok di 2/3 malam. Mereka senantiasa bergumul dengan lalu lintas pemikiran ilmiah dan menyadari bangsa ini seperti dijalankan oleh tubuh-tubuh tanpa kepala.

Ada saat mereka saling melempar batu dan Molotov, mengayunkan parang, dan menghunuskan badik ke sesama. Sebelumnya mereka telah merancang strategi pertahanan dan penyerangan, merapikan pasukan, mengumpulkan amunisi, serta menggalang sekutu. Mereka malah menganggap hal itu cuma sebagai stretching untuk pertempuran yang lebih riil pada penguasa dzalim, tidak lebih. Lihat saja, beberapa jam setelah tawuran, kalian bisa mendapati mereka duduk berdampingan di kamar-kamar kost-an menyeruput segelas kopi dan bercengkrama soal detail-detail aktivitas yang baru saja dan masih akan mereka lakukan.

Ada saat mereka turun ke basis masyarakat marjinal, melempar gagasan eksotis dalam tindakan taktis. Tanpa publikasi media, mereka setia berkarya di pelosok-pelosok kota. Menyediakan layanan pendidikan dan akses kesehatan gratis. Melakukan pendampingan konservasi lingkungan hidup, Mencipta teknologi tepat guna. Menjadi relawan bencana alam dan melakukan bermacam-macam kegiatan lain yang lupa ditunaikan penguasa. Kesadaran mereka menyeruak bahwa kealpaan peran negara pada permasalahan dasar masyarakat membutuhkan keberpihakan aktif golongan menengah.

Ada saat mereka turun ke jalan, ke kantor-kantor pemerintahan, memaki kebijakan tidak senonoh penguasa. Atas nama keadilan yang macet, mereka bersatu memacetkan kenyamanan penguasa. Atas nama kebijakan yang tak berpihak pada keadilan, mereka memilih dianggap anarkis, membakar apa saja yang harus dibakar dan berasap hitam.

Di Makassar, bumi pisang ijo dan jalangkote, demonstrasi adalah ritual wajib. Ancaman pentungan, gas air mata, preman bayaran, dan bedil bukan alasan untuk tetap duduk manis di balik tembok kampus. Demonstrasi selalu di-set damai, namun apabila polisi tiba-tiba menjadi beringas tanpa penyebab yang jelas (ini selalu terjadi), berarti segera kencangkan zirahmu dan lemparkan batu serta benda keras apapun sebanyak yang kau bisa. Dalam kepercayaan mereka, penindasan penguasa dalam berbagai cara, harus dilawan dengan segala cara.

Yeah. This... is... Ma... kas... sar !!!!!

Konsep seekor anak ayam tersirat dari sebutir telur. Sejarah berulang. Seperti pendahulunya sejak ratusan tahun silam. Pemuda Makassar membuat penguasa tak pernah tenang. Fungsi kromoson ke-22 dari gen mereka bekerja di luar prediksi bahwa kemampuan bertahan, berubah, berlawan, dan bergerak bebas dari batasan-batasan ‘normal’ bukan karena pengaruh lingkungan tapi karena kehendak dan kesadaran untuk beranjak ke kualitas hidup yang lebih baik.

Inilah perusuh Makassar, anak-anak muda yang berusaha menunjukkan "harapan tak pernah meninggalkan manusia".
.....

PS : Postingan ini adalah adaptasi dari tulisan om ES Ito "De Macassare Zee Rovers, Bajak Laut Makassar."

Artikel Terkait

Tuliskan apa saja, pokoknya menulis ! View More