Berburu Harta Karun di Pasar Buku Wilis

Pasar Buku Wilis Malang

Hal terpenting yang membuat saya ngiler dan bersedia ikut ke Malang adalah berburu buku-buku bekas di Wilis. Dibilang menunggangi tidak juga. Saya mengikuti hampir semua rangkaian kegiatan Kongres Luar Biasa HIMAPIKANI di kampus UMM, kecuali satu; seminar berbayar. Saya sudah terlanjur niat buat beli buku bukan sertifikat seminar.

Menuju Wilis dari UMM harus jalan kaki dulu ke terminal Landungsari biar hemat, dari sana baru naik angkot berkode LG. Pesan bro Rahmat Al Kafi (Ketua IKAMI Sulsel Cabang Malang), "Ingat naik angkot yang kodenya LG, jangan yang GL !". Memang beda yah ?
.....

Sampai di Wilis, saya langsung memulai perburuan. Tidak butuh waktu lama, di kios pertama saya berhasil mendapatkan buku John Perkins; Confessions of an Economic Hitman edisi Indonesia terbitan tahun 2005. Kondisi buku masih baru dan terbungkus plastik, harganya cuma 15 ribu tanpa proses tawar menawar.

Di kios berikutnya, saya menemukan salah satu novel keren terbitan Hikmah (Mizan Publika) tahun 2007 karya Chinua Achebe; Things Fall Apart lagi-lagi dengan harga 15 ribu. Oh Tuhan apa yang sebenarnya terjadi di sini ? Padahal di sampul buku tertulis sangat jelas "One of Time's Best 100 Novels".

Saya melanjutkan perburuan, berpindah dari satu kios ke kios yang lain sampai akhirnya menemukan novel pesanan ayah Layosibana Akhirun, Pramoedya Ananta Toer; Rumah Kaca, seharga 45 ribu. Dibanding dua buku sebelumnya, novel Pram memang agak sedikit mahal. Buku-buku yang sering ditanyakan dan dicari pembeli cenderung dihargai tinggi.
.....

Di Wilis, buku-buku baru atau lama yang most popular versi penjual pasti diletakkan di bagian atas. Soal harga tentu berbeda dengan buku-buku tua yang ditumpuk begitu saja di bagian bawah. Nah, buku-buku di bagian bawah ini yang banyak membuat saya tertarik, harganya lebih miring dan kadang jika beruntung sering terselip buku-buku keren.

Berburu di pasar buku manapun, prinsipnya hampir sama; pertama, jangan bertanya tentang buku yang anda cari. Kedua, jangan sekali-sekali tunjukkan antusiasme yang berlebihan pada buku yang anda inginkan (jika tidak ingin harganya mendadak naik). Ketiga, ini yang terpenting keep making a lowest bid till the end !

Untuk menghindari proses tawar menawar yang alot, saya lebih senang mengefektikan prinsip pertama dan kedua. Lumayan, di kios terakhir, saya berhasil mendapatkan 5 buku keren dengan harga 130 ribu; 1. Sindhunata; Sakitnya Melahirkan Demokrasi, 2. Alan Lightman; Mimpi-Mimpi Einstein, 3. Budi Darma; Olenka, 4. Afrizal Malna; Lubang dari Separuh Langit, 5. Martin Lunn; Da Vinci Code Decoded.

130 ribu untuk 5 buku ? yeah. Dibanding pasar buku lain seperti di Jakarta, Jogja, atau Surabaya, harga buku di Wilis tergolong murah, yang termurah tetap di Gondomanan Jogja. Tapi di Wilis stok dan genre buku lebih bervariasi. Buktikan sendiri ! semoga beruntung :)

Makassar i'm coming...

Artikel Terkait

Tuliskan apa saja, pokoknya menulis ! View More